1) Pendidikan Guru Berbasis Kompetensi (PBGK) Setelah membaca bagian ini, minimal Anda akan dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut.
Konsep kompetensi pernah diteliti oleh White pada tahun 1959 (periksa Nasution, 2003:182). Di dalam hasil penelitian itu dikemukakan bahwa motivasi kompetensi mempunyai dasar biologis. ini berarti bahwa kompetensi terdapat pula pada binatang, antara lain kemampuan menyelidiki, beraktivitas dan memanipulasi. Lebih lanjut White mengatakan bahwa kegiatan anak tidak dapat dijelaskan dengan dorongan untuk memuaskan kebutuhan makan dan minum atau kebutuhan biologis saja. Anak-anak metnbutuhkan interaksi dengan lingkungan. Melalui interaksi inilah anak-anak akan memperoleh kemampuan atau kompetensi.
Hasil penelitian White menginformasikan kepada kita bahwa lingkungan atau kondisi tempat anak-anak berada dan dapat berinteraksi akan membentuk kompetensi mereka. lini mengisyaratkan kepada kita bahwa kondisi belajar yang kondusif akan sangat mendukung pencapaian kompetensi.
Pendidikan tinggi mendefinisikan kompetensi sebagai seperangkat tindakan cerdas, penuh tanggung jawab yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas-tugas di bidang pekerjaan tertentu. Jika definisi ini dijadikan acuari, maka akan dikenal kompetensi untuk bidang keguruan, tenaga medis, misalnya. Seseorang dianggap berkompeten dalam bidang tertentu bila ia mampu menunjukkan tindakan cerdas dengan penuh tanggung jawab.
Kompetensi ini disiapkan melalui sebuah kurikulum yang maampu membawa pembelajarnya mencapai hasil belajar itu. Menurut Depdiknas (2002), pembelajaran berbasis kompetensi mengacu pada kurikulum yang pengembangannya merupakan suatu proses yang dinamis dengan berdarakan pada prinsip-prinsip sebagai berikut.
(1) Keseimbangan etika, logika, estetika, dan kinestika
(2) Kesamaan Memperoleh Kesempatan
(3) Memperkuat Identitas Nasional
(4) Menghadapi Abad Pengetahuan
(5) Menyongsong Tantangan Teknologi Informasi dan Komunikasi
(6) Mengembangkan Keterampilan Hidup
(7) Mengintegrasikan Unsur-unsur Penting ke Dalam Kurikuler
(8) PendidikanAlternatif
(9) BerpusatpadaAnak Sebagai Pembangun Pengetahuan
(10) Pendidikan Multikultur dan Multibahasa
(11) Penilaian Berkelanjutan dan Komprehensif
(12) Pendidikan Sepanjang Hayat
1.2 Program Pengalaman Lapangan dan Pendidikaii Guru Berbasis Kompetensi
Abimanyu dan Joni (1982) mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan membuka pelajaran adalah kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk menciptakan suasana siap mental dan menimbulkan perhatian murid agar terpusat pada hal-hal yang akan dipelajari.
Kegiatan membuka pelajaran tidak harus dilakukan pada awal jam pelajaran, tetapi juga pada awal setiap penggal kegiatan inti | pelajaran yang diberikan selamajam pelajaran itu.
Untuk menciptakan suasana siap mental murid terhadap materi yang akan dipelajari, guru dapat melakukan usaha memberikan acuan dan membuat kaitan antara materi pelajaran yang telah dikuasai murid dengan bahanbaru yang akan dipelajari.
Murid yang siap mental untuk belajar semacam itu adalah mereka yang telah mengetahui tujuan pelajaran, pengetahuan masalah-masalah pokok yang harus diperhatikan, mengetahui langkah-langkah kegiatan belajar yang akan dilakukan, dan mengetahui batas tugas yang harus dikerjakan untuk menguasai pelajaran tersebut. Yang dimaksud dengan menutup pelajaran adalah kegiatan yang dilakukan guru untuk mengakhiri kegiatan inti pelajaran. Usaha menutup pelajaran dimaksudkan untuk memberikan gambaran menyeluruh tentang yang telah dipelajari murid, mengetahui tingkat pencapaian murid dan tingkat keberhasilan guru dalam proses belajar mengajar(baca Abimanyu dan Joni 1982)
2.1.2 Tujuan Membuka dan Menutup Pelajaran
Membuka dan menutup pelajaran yang dilakukan secara profesional akan memberikan pengaruh positif terhadap kegiatan pemebelajaran (Mulyasa, 2005:83). Mengapa kita harus melakukan kegiatan membuka dan menutup pelajaran dalam kegiatan belajar mengajar? Dari beberapa sumber yang dikompilasi oleh (Joni dan Abimanyu 1982) membuka dan menutup pelajaran dilakukan oleh guru untuk:
- menimbulkan perhatian dan motivasi murid untuk menghadapitugas-tugas yang akan dikerjakan,
- murid mengetahui batas-batas yang akan dikerjakan,.
- murid mempunyai gambaran yang jelas tentang pendekatan yang mungkin diambil dalam mempelajari bagian-bagian dari suatu mata pelajaran,
- murid mengetahui hubungan antara pengalaman yang telah dikuasai dengan hal-hal baru yang akan dipelajari atau yang masih asingbaginya,
- murid dapat menggabungkan fakta, keterampilan atau konsep yang tercakup dalam suatuperistiwa, dan
- murid dapat mengetahui tingkat keberhasilan dalam mempelajari pelajaran itu.
2.1.3 Prinsip-Prinsip Membuka dan Menutup Pelajaran Abimanyu dan Joni (1982) mengemukanakn prinsip yang mendasari penggunaan keterampilan membuka dan menutup pelajaran adalah sebagai berikut.
1) Bermakna
Untuk menarik perhatian atau memotivasi murid, gum hendaklah memilih cara yang relevan dengan isi tujuan pelajaran. Cara, menyajikan cerita atau lelucon yang dicari-cari, yang hanya sekedar hendak menimbulkan tertawa murid, harus dihindarkan.
2) Berurutan dan Berkesinambungan
Aktivitas yang ditempuh oleh guru dalam memperkenalkan dan merangkum kembali pokok-pokok penting pelajaran hendaknya menjadi bagian dari kesatuan yang utuh. Agar prinsip berurutan dan berkesinambungan ini terwujud, perlu diusahakan suatu susunan yang tepat, berhubungan dengan minat murid, ada kaitan yang jelas antara satu bagian dengan bagian yang lain, atau ada kaitannya dengan pengalaman dan pengetahuan yang telah dimiliki murid.
2.1.4 Komponen Keterampilan Membuka dan Menutup Pelajaran Keterampilan membuka dan menutup pelajaran masing-masing memiliki komponen. Dalam hal ini, Abimanyu dan Joni (1982) mengeniukakan bahwa komponen membuka dan menutup pelajaran adalab sebagai berikut.
1) Komponen Membuka Pelaj aran
Pada bagian terdahulu telah dikemukan bahwa membuka pelajaran adalah kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk menciptakan suasana siap mental dan menimbulkan perhatian murid agar terpusat pada hal-hal yang akan dipelajari. Pada awal jam pelajaran atau pada awal penggal kegiatan dalam inti pelajaran, guru melakukan kegiatan membuka pelajaran dengan memperhatikan komponen berikut.
2) Komponen Menutup Pelajaran
Menjelang akhir suatu jam pelajaran atau pada akhir setiap penggal kegiatan, guru harus melakukan kegiatan menutup pelajaran agar murid memperoleh gambaran yang utuh tentang pokok-pokok materi pelajaran yang dipelajari. Cara-cara yang dapat dilakukan guru dalam menutup pelajaran adalah sebagai berikut.
2.2 Keterampilan Menjelaskan Setelah membaca bagian ini, minimal Anda akan dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut.
1) Apa pengertian menjelaskan?
2) Apa tujuan memberikan penjelasan?
3) Apa perlunya keterampilan menjelaskan?
4) Bagaimana penggunaan keterampilan menjelaskan di kelas?
5) Apa saja komponen keterampilan menjelaskan?
2.2.1 Pengertian Di dalam kehidupan sehari-hari kita seringkali mendengar tuturan atau kalimat "Saya menjelaskan kepada kawan-kawan tentang tamasya ke pulau Bali. Bagaimana keindahan alamnya, keramah-tamahan penduduknya, adat-istiadat dan kebudayaan-nya, serta tari-tariannya yang terkenal. Pada suatu kesempatan orang itu berkata lagi, "Saya menjelaskan kepada murid soya, mengapa pesawat terbang yang beratnya berton-ton itu dapat terbang diudara dan tidakjatuh ke bawah. "
Istilah menjelaskan pada alinea di atas digunakan pada dua keadaan yang agak berbeda. Pada keadaan yang pertama yang dimaksudkan dengan menjelaskan adalah membuat suatu gambaran tentang suatu keadaan atau peristiwa, sementara pada keadaan yang kedua digunakan untuk menghubungkan sebab-sebab peristiwa alam yang jika diberikan pada saat lain dengan kondisi yangsama akanberlaku juga untuk benda lain.
2.2.2 Tujuan Memberikan Penjelasan Kosasidan Joni (1982) mengemukakan bahwa keterampilan menjelaskan dapat dipakai untuk semua mata pelajaran dan di segala jenjang pendidikan. Akan tetapi, penyampaian dan kualitasnya berbeda. Ada beberapa tujuan yang ingin dicapai guru dalam memberikan penjelasan di dalam kelas. Tujuan dimaksud adalah sebagai berikut.
- Membimbing murid memahami dengan jelas jawaban pertanyaan mengapa yang mereka ajukan atau yang dikemukan guru.
- Menolong murid mendapatkan dan memahami hukum, dalil, dan prinsip umum secara objektif dan bernalar.
- Melibatkan murid untuk berpikir dengan memecahkan masalah atau pertanyaan.
- Mendapatkan balikan dari murid mengenai tingkat pemahamannya dan untuk mengatasi kesalahpengertian mereka.
- Menolong murid menghayati dan mendapatkan proses penalaran dan penggunaan bukti dalam penyelesaian keadaan yang meragukan.
2.2.3 Perlunya Keterampilan Menjelaskan Menjelaskan merupakan suatu aspek penting yang harus dimiliki oleh guru, mengingat sebagian besar pembelajaran menuntut guru untuk memberikan penjelasan ( Periksa Kosasi dan Joni, 1982, dan Mulyasa 2005:80). Lebih lanjut Kosasi dan Joni (1982) mengatakan Ada beberapa alasan yang dapat dikemukakan mengenai perlunya keterampilan menjelaskan dikuasai oleh guru dengan baik.
- Guru cenderung mendominasi kelas dan sebagian besar kegiatan guru adalah memberikan informasi atau menje¬laskan. Oleh karena itu, amatlah penting meningkatkan efektivitas pembicaraan itu agar benar-benar merupakan penjeiasan yang bermakna bagi murid.
- Penjelasan yang diberikan oleh guru kadang-kadang "tidak jelas" bagi murid, tetapi hanya jelas bagi din guru sendiri. Hal ini sering tercermin dalam ucapan guru. Sudahjelas, bukan?
- Tidak semua murid dapat menggali sendiri pengetahuan dari buku atau sumber lainnya. Untuk menanggulangi hal itu, guru membantu mereka dengan menjelaskan hal-hal tertenru.
- Kurangnya sumber yang tersedia yang dapat ditnanfaatkan murid dalam proses belajar. Guru perlu membantu murid dengan cara memberikan informasi yang cocok dengan materiyang diperlukan.
2.2.4 Penggunaan Keterampilan Menjelaskan di Kelas
Menjelaskan merupakan keterampilan dasar dalam menyajikan bahan pengajaran yang sering digunakan oleh guru. Tidak terhitung banyaknya pertanyaan yang diajukan di kelas yang Inwabannya memerlukan penjelasan. Dalam kegiatan menjelaskan ada tiga hal yang yang saling berkaitan yaitu, yang menjelaskan (guru), yang mendengar penjelasan (murid), dan hal yang akan dijelaskan (masalah dan pemecahannya). kepada hubungan dan kaitan yang dibuat secara logis antara fakta (bukti) dan hukum umum (generalisasi), dan juga pada penghayatan guru bahwa hal itu secara psikologis dapat diterima oleh sistem panca indera murid.
Beberapa prinsip yang harus diperhatikan di dalam memberikan penjelasan adalah sebagai berikut.
1) Penjelasan dapat diberikan di awal, di tengah, atau di akhir jam pelajaran, tergantung pada keperluannya. Penjelasan dapat diselingi dengan tanya jawab.
2) Penjelasan harus relevan dengan tujuan pembelajaran.
3) Guru dapat memberikan penjelasan bila ada pertanyaan murid ataupun direncanakan guru sebelumnya.
4) Penjelasan harus bermakna bagi murid
5) Penjelasan harus sesuai dengan latar belakang dan kemampuan murid.
2.2.5 Komponen Keterampilan Menjelaskan
Secara garis besar, komponen keterampilan menjelaskan terbagi menjadi dua, yaitu menganalisis dan merencanakan serta menyajikan.
1) Merencanakan Penjelasan
Penjelasan yang diberikan guru perlu direncanakan dengan baik. Dalam merencanakan ini ada dua hal yang harus diperhatikan, yaitu isi pesan yang akan
disampaikan, dan penerima pesaan itu.
2) Menyajikan Penjelasan
Sebuah perencanaan yang baik belum menjamin keberhasilan penyajiannya kepada pendengar. Perencanaan yang baik harus disertai penyajian yang baik pula. Penyajian dapat ditingkatkan hasilnya dengan memperhatikan komponen berikut.
(1) Kejelasan
(2) penggunaan contoh dan ilustrasi
(3) Pemberian tekanan
(4) Balikan
2.3 Keterampilan Mengelola Kelas
Setelah membaca bagian mi, minimal Anda akan dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut.
1. Apa pengertian mengelola kelas?
2. Apa tujuan pengelolaan kelas bagi guru?
3. Apa tujuan pengelolaan kelas bagi murid?
4. Apa saja prinsip-prinsip mengelola kelas?
Apa saja komponen keterampilan mengelola kelas? Hal-hal apa saja yang harus dm'mdari da\am pengelolaan kelas?
2.3.1 Pengertian
Sekolah adalah tempat belajar bagi murid, dan tugas guru yang sebagian besar terjadi dalam kelas adalah membelajarkan murid dengan menyediakan kondisi belajar yang optimal. Semiawan (1985:63) mengemukakan bahwa tugas utama guru adalah menciptakan suasana di dalam kelas agar terjadi interaksi belajar-mengajar yang dapat memotivasi murid untuk belajar dengan baik. Agar kegiatan belajar-mengajar berjalan optimal seorang guru harus memiliki kemampuan memanajemeni kelas (periksa Suroso, 2002:93). Tugas di dalam kelas yang berhubungan dengan murid ini berkaitan dengan minat, kehendak, percakapan maupun kegiatan-kegiatan mereka.
1.2 Tujuan Mengelola Murid
Dari berbagai sumber yang dikompilasi oleh Bolla dan Joni (1982) diperoleh informasi bahwa keterampilan mengelola kelas
mepunyai tujuan, baik bagi murid maupun bagi guru. Tujuan-tujuan itu adalah sebagai berikut.
1) TujuanuntukMurid
(1) mendorong murid mengembangkan tanggung jawab individual terhadap tingakah lakunya, serta sadar untuk mengendalikan dirinya.
(2) membantu murid mengerti akan arah tingkah laku yang sesuai dengan tata tertib kelas, dan melihat atau merasakan teguran guru sebagai suatiu peringatan bukan kemarahan, dan
(3) menimbulkan rasa berkewajiban melibatkan diri dalam tugas serta bertingkah laku yang wajar sesuai dengan aktivitas kelas.
2) Tujuan untuk Murid
(1) mengembangkan pengertian dan keterampilan dalam memelihara kelancararan penyajian dan langkah langkah pelajaran secaratepatdanbaik,
(2) memiliki kesadaran terhadap kedudukan murid dan mengembangkan kompetensinya di dalam membe rikan pengarahan yang j elas kepada murid, dan
(3) memberi respon secara efektif terhadap tingkah laku murid yang menimbulkan gangguan kecil atau ringan serta memahami dan menguasai seperangkat kemungkinan strategi yang dapat digunakan dalam hubungan dengan masalah tingkah laku murid yang berlebih-lebihan atau melawan di kelas.
2.3.3 Prinsip-prinsip Mengelola Kelas
Ada enam prinsip dasar yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan komponen keterampilan mengelola kelas (Bolla dan Joni, 1982). Prinsip-prinsip itu adalah sebagai berikut.
1) Kehangatan dan Keantusiasan
2) Tantangan
3) Bervariasi
4) Keluwesan
5) Penekanan kepada Hal-hal yang Positif
6)PenanamanDisiplinDiri
2.3.4 Komponen Keterampilan Mengelola kelas
Keterampilan mengelola kelas terbagi menjadi dua jenis keterampilan utama. Keterampilan yang dimaksud adalah sebagai berikut.
1) Keterampilan yang Berhubungan dengan Penciptaan dan PemeliharaanKondisi Belajar yang Optimal
Keterampilan ini berkaitan dengan kemampuan guru didalam mengambil inisiatif dan mengendalikan pelajaran serta kegiatan yang berhubungan dengan hal tersebut.
(1) Menunjukkan sikap tanggap
(2) Membagi Perhatian
(3) Memusatkan Perhatian Kelompok
(4) Memberikan Petunjuk-petunjuk yang Jelas
(5) Menegur
(6) Memberi Penguatan
2) Keterampilan yang Berhubungan dengan Pengembalian Kondisi Belajar yang Optimal
Keterampilan ini berkaitan dengan respon guru terhadap gangguan murid yang berkelanjutan dengan maksud agar guru dapat mengadakan tindakan remedial untuk mengembalikan kondisi belajar yang optimal. Dalam banyak kelas guru sering menghadapi anak-anak yang terus saja mengganggu dan tetap tidak tenang. Walaupun guru telah menggunakan tingkah laku yang efektif dan respon yang sesuai telah diberikan masih saja ada murid atau kelompok murid yang menimbulkan gangguan yang berulang-ulang.
2.3.5 Hal-ha! yang Harus Dihindari
Dalam usaha mengelola kelas secara efektif, ada sejumlah kekeliruan yang harus dihindari guru. Bolla dan Joni (1982) mencatat ada beberapa kekeliruan. Kekeliruan itu adalah sebagai berikut.
1) CampurTanganyangBerlebihan
2) Kelenyapan
3) Ketidaktepatan Memulai dan Mengakhiri Kegiatan
4) Penyimpangan
5) Bertele-tele
6) Pengulangan Penjelasan Secara Tidak Perlu
2.4 Keterampilan Memberi Penguatan
Setelah membaca bagian ini, minimal Anda akan dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut.
1) Apa pengertian memberikan penguatan?
2) Apa tujuan memberikan penguatan?
3) Apa saja prinsip penggunaan keterampilan?
4) memberikan penguatan di kelas?
5) Bagaimana cara menggunakan keterampilan memberikan penguatan di kelas?
6) Apa saja komponen pemberian penguatan?
2.4.1 Pengertian
Dalam kehidupan sehari-hari, usaha kita sering mendapat penghargaan. Sesudah kita menolong seseorang, biasanya orang yang ditolong mengucapkan terimakasih. Ucapan terima kasih ini merupakan satu penghargaan atas pertolongan tadi. Upah yang diterima, kenaikan gaji, dan kenaikan pangkat adalah penghargaan atas pekerjaan seseorang. Pada urnumnya peng hargaan mempunyai pengaruh positif dalam kehidupan manusia, yaitu mendorong seseorang memperbaiki tingkah laku dan meningkatkan usahanya (Periksa juga Arends, 2001:81).
2.4.2 Tujuan Memberi Penguatan
Pemberian penguatan dan penerapannya secara bijaksana dan sitematis berdasarkan cara dan prinsip yang tepat, akan dapat mencapai beberapa tujuan yang merupakan kemungkinan kemanfaatan dari penggunaan penguatan di kelas. Pah dan Joni (1982) menyebutkan paling sedikit tujuan dan manfaat pemberian penguatan adalah untuk:
1) meningkatkan perhatian murid.
2) membangkitkan dan memeiihara motivasi murid.
3) memudahkan murid belajar.
4) mengontrol dan memodifikasi tingkah laku murid yang kurang positif serta mendorong munculnya tingkah laku yang produktif.
2.4.3 Prinsip Penggunaan Penguatan
Penggunaan penguatan secara aktif harus memperhatikan tiga prinsip sebagai berikut.
1) Kehangatan dan keantusiasan
2) Kebermaknaan
3) Menghindari penggunaanrespon yang negatif
2.4.4 Cara-caraMemberikan Penguatae diKelas
1) Penguatan kepada pribaditertentu
2) Penguatan kepada kelompok murid
3) Pemberianpenguatan dengan segera
4) Variasi dalam penggunaan
2.4.5 Komponen Pemberian Penguatan
Keterampilan memberikan penguatan terdiri dari beberapa komponen yang perlu dipahami dan dikuasai penggunaannya oleh guru agar ia dapat memberikan penguatan secara bijaksana dan sistematis. Komponen itu adalah sebagai berikut.
1) Penguatan verbal
2) Penguatan nonverbal
3) Penguatan dengan sentuhan
4) Penguatan dengan kegiatan yang menyenangkan
5) Penguatan berupa simbol atau benda
6) Penguatan takpenuh
2.5 Keterampilan Bertanya Dasar dan Lanjut
Setelah membaca bagian ini, minimal Anda akan dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut.
1. Apa pengertian bertanya dasar dan lanjut?
2. Apa tujuan bertanya dasar dan lanjut?
3. Apa hal-hal yang perlu diperhatikan dalam bertanya dasar dan lanjut?
4. Apa saja komponen keterampilanbertanya dasar?
5. Apa saja komponen keterampilan bertanya lanjut?
2.5.1 Pengertian
Bertanya adalah kegiatan yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari di kantor, di rumah, di pasar, di perjalanan, di sekolah dan dimanasaja selaluterjadi kegiatan tanya jawab ini.
Pertanyaan di dalam kehidupan sehari-hari biasanya bertujuan memperoleh informasi mengenai hal yang behim diketahui penanya. Umpanyanya seorang menanyakan harga sebuah kemeja, Pertanyaan ini diajukan kerena ia belum mengetahui harganya dan ingin mengetahuinya. Demikian pula bila seorang dalam perjalanannya menanyakan jalan jurusan ke Bogor. Tujuan pertanyaannya ialah untuk memperoleh informasi yang tempat mengenai jalan ke Bogor yang belum diketahuinya.
2.5.2 Tujuan Penggunaan Keterampilan Bertenya
Menurut penelitian, kemampuan bertanya, adalah salah satu darii lima perilaku pendukung guru yang efektitif (Borich, 1996 dalamMudjiman2006:l 13)
Seorang guru yang mengajukan pertanyaan dengan menggunakan keterampilan bertanya secara tepat dapat mengharapkan tercapainya beberapa tujuan yang merupakan kemungkinan kemanfaatan penggunaan keterampilan bertanyi dalamkelas. Tujuan yang akan dicapai adalah sebagai berikut.
1) Membangkitkan minat dan rasa ingin tahu murid terhadap suatupokok bahasan,
2) Memusatkan perhatian rnurid terhadap suatu pokok bahasan atau konsep,
3) Mendiagnosis kesulitan khusus yang menghambat mum belajar,
4) Mengembangkan cara belaj ar murid aktif,
5) Memberikan kesempatan kepada murid untuk mengasi-milasikan informasi,
6) Mendorong murid mengernukakan pandangannya dalani diskusi, serta
7) Menguj i dan mengukur hasi 1 belaj ar murid.
2.5.3 Hal-hal yang Perlu Diperhatikan
Dalam usaha pencapaian tujuan tersebut, ada beberapa yang perlu diperhatikan guru waktu menggunakan keterampilan bertanya dalam proses belajar mengajar, baik keterampilan bertanya dasar maupun bertanya lanjut.
1) Kehangatan dan keantusiasan
2) Kebiasaan yang perlu dihindari
3) Menjawab pertanyaan sendiri
4) Pertanyaan yangmemancing jawaban serentak
5) Pertanyaan Ganda
6) Menentukan murid menjawab
2.5.4 Komponen Keterampilan Bertanya Dasar
Keterampilan bertanya dasar mempunyai beberapa komponen. pemahakan guru tentang komponen-komponen ini serta penguasaan penggunaannya merapakan faktor penting dalam usaha pencapaian tujuan penggunaan pertanyaan dalam kelas. Komponen-komponen itu adalah sebagai berikut.
1) Penggunaan Pertanyaan Secara Jelas dan Singkat
2) Pemberian acuan
3) Pemindahan giliran
4) Penyebaran
5) Pemberian Waktu Berpikir
6) Pemberiantuntunan
2.5.5 Komponen Keterampilan Bertanya Lanjut
Keterampilan bertanya lanjut merupakan kelanjutan dari keterampilan bertanya dasar. Keterampilan bertanya lanjut yang dikuasai guru meliputi komponen sebagai berikut.
1) Pengubahan tunrutan tingkat kognitif dalam menjawab pertanyaan
2) Pengaturan urutan pertanyaan
3) Penggunaan pertanyaan pelacak
2.6 Keterampilan Membimbing Diskusi Kelompok Kecil
Setelah membaca bagian ini, minimal Anda akan dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut.
1. Apa pengertian membimbing diskusi kelompok kecii?
2. Apa tujuan membimbing diskusi kelompok kecil?
3. Hal-hal apa yang perlu diperhatikan dalam membimbing diskusi kelompok kecil?
4. Apa saja komponen keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil?
5. Hal-hal apa saja yang hams dihindari dalam membimbing diskusi kelompok kecil?
2.6.1 Pengertian
Diskusi merupakan suatu kegiatan yang biasa dilakukan dalam berbagai lapangan seperti dalam dunia politik, kegiatan sosial, perdagangan, dan kebudayaan. Dari makna kata diskusi dapat diketahui bahwa di dalamnya terlibat lebih dari satu orang. Dengan demikian diskusi selalu terjadi dalam kelompok, baik kelompok besar maupun kecil. Tetapi perlu diingat, tidak semua percakapan datam kelompok dapat disebut diskusi.
2.6.2 Tujuan Penggunaan Pembimbingan Diskusi
Roestiyah dan Suharto (1985:6) mengemukakan bahwa proses belajarmelalui diskusi bertujuanagar:
Pertama, murid dapat menggunakan pengetahuan dan pengalamannya untuk memecahkan masalah, tanpa selalu bergantung pada pendapat orang lain. Murid dilatih berpikir dan memecahkan masalah sendiri. Meskipun ada perbedaan pandangan di antara peserta diskusi dan akan muncul jawaban yang berbedapula.
Kedua, murid mampu menyatakan pendapatnya secara lisan dan berlatih mengaplikasikan demokrasi.
Ketiga, murid belajar berpartisipasi suatu masalah di dalam memecahkan.
2.6.3 Hal-hal yang Perlu Diperhatikan
Agar pelaksanaan diskusi kelompok berjalan dengan lancar Roetiyah dan Suharto (1985:7) menyarankan agar guru berperan sebagai
1) Pengatur lalu lintas pembic araan
2) Benteng penangkis
3) Penunjukjalan
2.6.4 Komponen Keterampilan MembimMng Diskusi Kelompok Kecil
Setelah menyelesaikan perencanaan dan persiapan dengan matang, dengan niat untuk memelihara iklim yang terbuka, guru akan memulai berdiskusi
1) MemusatkanPerhatian
2) Memperjelas Masalah atau Urun Pendapat
3) Menganalisis Pandangan Murid
4) Meningkatkan Urunan Pikiran murid
5) Menyebarkan Kesempatan Berpartisipasi
6) Menutup Diskusi
2.6.5 Hal-hal yang Harus Dihindari
Ada beberapa hal yang haras diperhatikan oleh guru di dalam membimbing diskusi keiompok kecil. Guru harus menghindari hal-hal berikut.
1) Melaksanakan diskusi dengan topik yang tidak sesuai dengan minat dan latar belakang pengetahuan murid.
2) Mendominasi diskusi antara lain dengan pertanyaan yang terlampau banyak dan menyediakan jawaban yang banyak juga.
3) Membiarkan murid tertentu memonopoli diskusi.
4) Membiarkan terjadinya penyimpangan dari pembicaraan yang tidak relevan.
5) Tergesa-gesa meminta respon murid atau mengisi waktu dengan berbicara terus, sehingga murid tidak sempat berpikir.
6) Membiarkan murid yang enggan untukberpartisipasi.
7) Tidak memperjelas atau mendukung urunan pikiran murid
8) Gagal mengakhiri diskusi secara efektif.
2.7 Keterampilan Mengajar Kelompok Kecil dan Perorangan (MKKP)
Setelah membaca bagian ini, minimal Anda akan dapat rnenjawab pertanyaan-pertanyaan berikut.
1) Apa pengertian mengajar kelompok kecil dan perorangan?
2) Apa tujuan mengajar kelompok kecil dan perorangan?
3) Hal-hal apa saja yang perlu diperhatikan dalam mengajar kelompok kecil dan perorangan
4) Apa saja komponen keterampilan mengajar kelompok kecil dan perorangan
2.7.1 Pengertian
Keberhasilan pemelajaran adalah keberhasilan peserta didik dalam memperoleh kompetensi dan mencapai tujuan. Keberhasilaii ini tidak terlepas dari keberhasilan guru dalam membimbing merekabelajar baik dalam kelompok kecilmaupun perorangan.
2.7.2 Tujuan Mengajar Kelompok Kecil dan Perorangan
Pengajaran kelompok kecil dan perorangan bertujuan
1) agar guru dapat memberikan perhatian terhadap setiapj murid,
2) membina hubungan yang lebih akrab antara guru dan murid, maupun antara murid dan murid,
3) murid dapat belajar dari temannya sendiri,
4) memotivasi murid belajar lebih banyak karena harus mengajar temannya,
5) agar kreativitas dan sifat kepemimpinan murid berkembang
6) kadar proses belajar aktif dalam kegiatan belajar mengajar meningkat
2.7.3 Penggunaan Keterampilan MKKP di Kelas
Memberikan perhatian yang wajar pada perbedaan individual murid dalam bentuk pengajaran kelompok kecil dan perorangan menuntut perabahan baik dalam pengelolaan kelas maupun dalam peran guru. Kalau selama ini guru hampir selalu menghadapi murid dalam kelas besar, kini harus disediakan kesempatan bagi murid untuk bekerja di dalam kelompok kecil, dan bila perlu secara perorangan. Berbagai variasi pengorganisasian dapat digunakan untuk maksud tertentu, yang tentu saja harus disesuaikan dengan tujuan yang ingin dicapai, kemampuan murid., kemampuan guru mengelola, serta fasilitas yang tersedia.
2.7.4 Hal-hal yang Perlu Diperhatikan
Agar dapat menggunakan kelompok kecil dan format perorangan secara efektif, yang perlu diperhatikan oleh guru adalah sebagai berikut.
1) Guru yang sudah biasa dengan pengajaran klasikal, sebaiknya mulai dengan pengajaran kelompok, kemudian secara bertahap mengarah kepada pengajaran perorangan. Sedangkan calon guru sebaiknya mulai dengan pengajaran perorangan, kemudian secara bertahap ke pengajaran kelompok kecil.
2) 2) Tidak semua topik dapat dipelajari secara efektif dalam kelompok kecil maupun perorangan. Hal yang bersifat umum seperti pengarahan, dan informasi umum, sebaiknya diberikan dalam bentuk kelas besar.
3) Dalam pengajaran kelompok kecil, langkah pertama yang harus dikerjakan guru adalah mengorganisasikan murid, sumber, materi, ruang, serta waktu yang diperlukan. Langkah ini merupakan landasan bagi berlangsungnya kegiatan.
4) Kegiatan pengajaran kelompok kecil yang efektif diakhiri dengan suatu kulminasi yang dapat berupa rangkuman, pemantapan, dan laporan yang memungkinkan murid salingbelajar.
5) Dalam pengajaran perorangan guru sangat perlu mengenal murid secara pribadi, hingga kondisi belajar dapat diatur dengan tepat
6) Kegiatan dalam pengajaran perorangan dapat berupa bekerja bebas dengan bahan yang telah siap, dapat belajar sendiri dengan jadwal faarian yang disiapkan sendiri pula dan dapat pula bekerja dalam kelompok kecil. Dengan demikian dalam situasi pengajaran perorangan, guru mungkin bekerja dengan situasi pengajaran perorangan, guru mungkin bekerja dengan satu orang murid, atau mengunjungi setiap murid dengan berbagai kegiatan bila muncul kebutuhan untukitu.
2.7.5 Komponen Keterampilan Mengajar Kelompok Kecil dan Perorangan
Bila diteliti lebih jauh, pengajaran kelompok kecil dan perorangan, masing-masing memerlukan keterampilan yang berhubungan dengan penanganan orang dan penanganan tugas, Ada empat komponen keterampilan yang harus dimiliki olch guru untuk pengajaran kelompok kecil dan perorangan. Komponen itu adalah sebagai berikut.
1) Keterampilan Mengadakan Pendekatan Secara Pribadi
2) Keterampilan Mengorganisasikan
3) Keterampilanrnembimbing danmemudahkanbelajar
4) Keterampilan merencanakan dan melaksanakan kegiatan belajar mengajar
2.8 Keterampilan Mengadakan Variasi
Setelah membaca bagian ini, minimal Anda akan dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut.
1. Apa pengertian Mengadakan Variasi?
2. Apa tujuan mengadakan variasi?
3. Apa prinsip penggunaan keterampilan mengadakan variasi di kelas?
4. Apa komponen keterampilan mengadakan variasi?
2.8.1 Pengertian
Kebosanan merupakan masalah yang selalu terjadi di mana mana dan orang selalu berusaha menghilangkannya, atau setidak-tidaknya mencoba menguranginya. Kebosanan biasanya terjadi bila seorang selalu melihat, merasai atau mengalami peristiwu yang sama secara berulang terus-menerus. Kita akan merasa bosan bila kita tahu akan bertemu dengan yang "itu-itujuga", dan tidak ada sesuatu yang baru yang diharapkan. Dari ungkapan di ata.s jelas bahwa umumnya orang selalu ingin "sesuatu yang baru," yang berbeda dari yang telah dialaminya. Kecenderungan kila adalah adanya suatu perubahan atau perbedaan dari yang telah ada, kita menginginkan adanya variasi dalam kehidupan. Hidup menjadi lebih menarik, dan kita lebih dapat menikmati kehidupan bila hidup dijalani dengan penuh variasi.
2.8.2 Tujuan Mengadakan Variasi
Keterampilan mengadakan variasi dalam mengajar berhubungan dengan perubahan atau variasi yang dilakukan guru dalam sajiannya dengan gaya guru mengajar, macam media dan bahan pengajaran yang digunakan, dan pola interaksi dalam kelas.
Kemanfaatan keterampilan mengadakan variasi dalam mengajar terutama untuk memusatkan perhatian dan pemberian inotivasi dengan tujuan sebagai berikut.
1) Untuk menimbulkan dan meningkatkan perhatian murid kepada aspek belaj ar-mengaj ar yang relevan.
2) Untuk memberikan kesempatan berkembangnya bakat "ingin mengetahui dan menyelidiki" dari murid tentang hal-hal yang baru.
3) Untuk memupuk tingkah laku yang positif terhadap guru dan sekolah dengan berbagai cara mengajar yang lebih hidup dan lingkungan belaj ar yang lebih baik.
4) Untuk memberi kesempatan kepada murid mendapatkan cara menerima pelajaran yang disenanginya.
5) Untuk lebih meningkatkan kadar proses belajar mengajar yang aktif dan melihat murid dengan berbagai pengalaman yang menarik dan terarah pada berbagai tingkat kognitif.
2.8.3 Prinsip Penggunaan Keterampilan Mengadakan Variasi
Ada tiga prinsip yang berhubungan dengan penggunaan keterampilan mengadakan variasi. Prinsip itu adalah sebagai berikut.
1) Variasi hendaknya digunakan dengan suatu maksud tertentu, relevan dengan tujuan yang hendak dicapai, cocok dengan kemampuan hak dan hakekat pendidikan. Penggunaan variasi yang wajar dan beragam sangat dianjurkan, dan sebaliknya pemakaian yang berlebihan akan menimbulkan kebingungan, malahan dapat mengganggu proses beiajar mengajar.
2) Variasi haras digunakan secara lancar dan berkesinai bungan, sehingga tidak akan merasak perhatian mur dan tidak mengganggupelajaran.
3) Sejalan dengan prinsip-prinsip di atas, komponer komponen variasi tertentu memerlukan susunan da perencanaan yang baik, artinya secara eksplisi dicantumkan dalam rencana pelajaran..
2.8.4 Komponen Keterampilan Mengadakan Variasi
Pada bagian terdahulu telah dikemukakan bahwa komponen keterampilan mengadakan variasi ada tiga. Berturut-turut, komponen itu akan dibicarakanberikut ini,
1) Variasi dalam GayaMengajar
2) Variasi dalam penggunaan media dan bahan pengajaran
3) Variasi Polalnteraksi dan Kegiatan Murid