Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Rabu, 19 Juni 2013

Tempat dan Waktu Pertunjukan tayub

Tempat dan Waktu Pertunjukan tayub

Tempat Pertunjukan
Tempat pentas atau ruang pertunjukan tayub pada mulanya menggunakan konsep ruang terbuka. Dalam hal ini ruang pentas atau stage dapat dilakukan di berbagai tempat, misalnya pendapa, rumah, sawah, halaman, lapangan, jalan, bahkan kuburan. Tempat pertun¬jukan untuk upacara ritual bersih desa masih memilih terripat-tempat keramat, seperti pundhen dan sendhang. Tempat pentas itu kadang-kadang juga dibuatkan panggung. Dalam perkembangan tempat pen¬tas terutama untuk acara hajatan terjadi perubahan atau penyesuaian dengan ruang kehidupan sosial desa sekarang ini. Ruang pertunjukan tayub bergeser dari ruang terbuka menjadi ruang tertentu atau cen-derung dibatasi dengan panggung. Istilah panggung dalam hal ini mempunyai pengertian yang sempit yaitu tempat atau lantai pentas yang ditinggikan.
Perubahan tempat pentas itu tampaknya mendapat pengaruh konsep ruang pentas Barat, seperti prosenium. Tempat pentas yang disiapkan adalah panggung yang tinggi dan luasnya ditentukan sesuai dengan kebutuhan. Dalam menentukan luas panggung biasanya mem-pertimbangkan jumlah joged yang akan tampil dalam pertunjukan. Sebagai contoh ketika pertunjukan tayub di Todanan pada tanggal 12 Maret 2005 yang menghadirkan empat orang joged, luas panggung berukuran 6x6 meter dengan tinggi 60 cm. Selain itu juga dibuat pang¬gung untuk tempat gamelan dan pengrawit. Dengan demikian dalam perkembangan ruang pentas pertunjukan tayub terjadi pergeseran dari ruang terbuka menjadi lebih terbatas.


Waktu Pertunjukan
Tayub biasanya dipertunjukkan pada waktu siang dan malam ha¬ri. Pada tahun 1990-an pertunjukan pada siang hari dilakukan mulai pukul 10.00 sampai dengan pukul 17.00, sementara pada malgm hari dimulai pukul 21.00 sampai dengan pukul 04.00 dini hari. Dengan jadwal seperti itu pertunjukan tayub pada siang hari dilakukan selama 7 jam dan pada malam hari selama 6 jam, jika dijumlah waktu per¬tunjukan tayub selama sehari semalam kurang lebih 13 jam. Perkem¬bangan sekarang ini, waktu pertunjukan lebih dipersingkat, pada siang hari dimulai pukul 11.00 atau 12.00 sampai dengan pukul 16.00 atau 17.00, sedangkan pada malam hari pukul 23.00 sampai dengan pukul 03.00 atau 04.00 dinihari, sehingga hanya diperlukan waktu selama 8 sampai dengan 10 jam.

Penaaggap dan Penonton Penanggap

Penanggap adalah seseorang yang meminta dan membiayai penye-lenggaraan pertunjukan, dalam hal ini pertunjukan tayub. Penanggap adalah orang yang mempunyai hajat, sedangkan sebuah hajatan adalah sebuah performance (pertunjukan yang dilaksanakan sebaik-baiknya). Penanggap mempunyai otoritas dalam menentukan bentuk sajian tayub, tenmasuk di dalamnya menentukan joged yang akan terlibat, pengarih, dan kelompok karawitan. Di samping itu ia juga menentukan bentuk panggung, peralatan yang digunakan, dan Iain-lain. Penentuan joged, pengarih, kelompok pengrawit, bentuk pang¬gung, dan peralatan yang digunakan sangat ditentukan oleh kemam-puan finansial seorang penanggap. Penanggap juga menentukan ben¬tuk 


Penonton
Peran penonton juga tidak kalah penting dalam pertunjukan ta¬yub. Daya apresiasi para penonton diharapkan dapat ditingkatkan kemampuannya, a'gar interaksi dan komunikasi dalam tayub berjalan baik. Keragaman kemampuan di antara penonton dapat pula menjadi kendala, apalagi adanya kesenjangan daya apresiasi antara yang tua dan yang muda. Keberlanjutan seni pertunjukan sangat ditentukan oleh daya apresiasi penontonnya. Jika masyarakat tidak mempunyai daya apresiasi terhadap pertunjukan tayub, maka tidak ada yang menonton pertunjukan. Oleh karena itu perlu diupayakan peningkatan daya apresiasi masyarakat agar pertunjukan tayub tetap hidup dan berkembang sesuai perkembangan zaman.

Suwelan dan Walik Gendhing
Suwelan dan u;a/ik gendhing atau walik bonang merupakan dua unsur yang selalu mewarnai pertunjukan tayub, yang sebenarnya da-pat dikategorikan unsur non-estetis. Namun dua unsur itu sering di-anggap penting dalam pertunjukan.
Suwelan
Suwelan adalah sebutan yang digunakan untuk menunjuk pada aktivitas seorang pengibing yang memasukkan uang ke sela-sela kem-ben atau payudara seorang joged. Dalam perkembangannya, kebiasa-an suwelan dipandang kurang sopan dan tidak sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat, karena tradisi suwelan itu memungkin-kan para pengibing menggunakan kesempatan dengan mencolek tu-buh atau payudara seorang joged ketika memasukkan uang ke dalam sela-sela fcemfaennya, Oleh karena itu sudah diupayakan dihilangkan, meskipun kenyataan di lapangan masih sulit untuk dicegah.

Walik Gendhing
Walik gendhing adalah sebutan untuk menunjuk pada aktivitas permintaan gendhing oleh pengibing kepada kelompok pengrawit. Permintaan gendhing biasanya disertai dengan memberikan imbalan uang kepada kelompok pengrawit dengan cara meletakkan uang itu (sering disebut uang saweran atau uang tombok) ke dalam instrumen bonangyangdiletakkan terbalik. Oleh karena uang imbalan diletakkan di instrumen bonang, maka aktivitas itu disebut walik bonang.

Perlengkapan Lain
Perlengkapan pertunjukan tayub terdiri atas: panggung dan perabot pendukungnya, sound system, lampu, gamelan, sampur, se-saji, dan minuman beralkohol. Akan tetapi dalam pembicaraan di bawah ini hanya akan diuraikan mengenai sampur, sesaji, dan mi¬numan beralkohol, karena perlengkapan yang lain sudah dijelaskan dalam pembicaraan sebelumnya pada elemen pertunjukan tayufa.

Sampur
Dalam pertunjukan tayub, sampur menjadi properti yang sangat " penting. Sampur tidak hanya digunakan oleh para joged untuk me¬nari, tetapi juga dipersiapkan untuk para pengibing yang akan berpar-tisipasi dalam pertunjukan tayub. Selain itu sampur mempunyai sim-bol yang menyatakan bahwa seseorang yang menerima sampur berarti berhak menari dalam pertunjukan tayub. Sampur juga dimaknai se¬bagai simbol penghormatan kepada seseorang yang akan menari tayub. Dengan menggunakan sampur seorang pengibing akan lebih maksimal dalam berekspresi menari tayub. Gerak-gerak tari yang di¬lakukan semakin bervariasi dengan properti sampur yang digunakan.
 
Oleh karena sampur dimaknai sebagai penentu bagi orang yang berhak untuk menari sebagai pengibing atau pengguyub, maka jika seseorang tidak mendapat kesempatan menerima sampur yang berarti tidak mendapat kesempatan menari, akan kecewa bahkan marah. Jumlah sampur yang dipersiapkan dua kali lipat jumlah joged yang tampil dalam pertunjukan tayub. Jikajumlah joged dalam pertunjukan itu empat orang, maka sampur yang dipersiapkan bagi pengibing dan pengguyub berjumlah delapan lembar. Orang yang bertanggung jawab menyiapkan sampur adalah pengarih, meskipun seringkali sampur yang digunakan adalah sampur milik para joged. Warna sam¬pur yang digunakan dapat berwarna-warni, tidak harus dengan warna yang sama. Sampur itu biasanya ditempatkan di atas nampan atau baki dan disampaikan kepad aparapengibingsebelum tampil menari.
Sesaji (Sesajen)
Sesaji (sering disebut dengan cok bakal) adalah seperangkat sya-rat yang harus dipersiapkan dalam pertunjukan tayub. Sesaji dianggap sebagai unsur yang dapat membantu kelancaran dan keberhasilan pertunjukan. Sesaji pada pertunjukan tciyub biasanya diletakkan di antara gamelan yang akan ditabuh, seringkali di dekat instrumen gong. Sesaji pada umumnya dipersiapkan sebelum pertunjukan. Se¬saji biasanya ditempatkan di atas tampah atau tambir atau nampan dan masing-masing makanan ditempatkan pada takir yang dibuat dari daun pisang.

Minuman Beralkohol

Minuman beralkohol seringkali menyertai pertunjukan tayub, bah-kan di beberapa desa minuman beralkohol dianggap sebagai.bagian yang tak terpisahkan dari pertunjukan tayub. Oleh karena itu, orang minum minuman beralkohol menjadi fenomena yang biasa terlihat dalam arena pertunjukan tayub. Hal itu dianggap merupakan bagian dari pelengkap atau salah satu syarat pertunjukan tayub. Walaupun sudah diupayakan agar minuman beralkohol dihilangkan dari arena pertunjukan tayub, namun masyarakat desa terutama penggemar ta¬yub masih mengkonsumsi minuman beralkohol. Hal itu disebabkan oleh adanya pendapat bahwa minum minuman beralkohol menjadi bagian dari bentuk pergaulan yang berlaku pada masyarakat. Oleh karena itu kalau disediakan minuman alkohol dan ditawari untuk minum, mereka pada umumnya menerima dengan senang hati. Hal itu merupakan bentuk penghormatan, baik bagi yang punya hajat maupun yang disodori minuman beralkohol. Pandangan yang ter-tanam itu menyebabkan hampir setiap tamu yang disodori minuman alkohol tidak menolak untuk meminumnya.

Artikel Geografi

Tsunami

A tsunami is a series of water waves caused by the displacement of a large volume of a body of water, generally an ocean or a large lake. Earthquakes, volcanic eruptions and other underwater explosions (including detonations of underwater nuclear devices), landslides, glacier calvings, meteorite impacts and other disturbances above or below water all have the potential to generate a tsunami.
Tsunami waves do not resemble normal sea waves, because their wavelength is far longer. Rather than appearing as a breaking wave, a tsunami may instead initially resemble a rapidly rising tide, and for this reason they are often referred to as tidal waves. Tsunamis generally consist of a series of waves with periods ranging from minutes to hours, arriving in a so-called "wave train".Wave heights of tens of metres can be generated by large events. Although the impact of tsunamis is limited to coastal areas, their destructive power can be enormous and they can affect entire ocean basins; the 2004 Indian Ocean tsunami was among the deadliest natural disasters in human history with over 230,000 people killed in 14 countries bordering the Indian Ocean.


The Greek historian Thucydides suggested in his late 5th century BC, History of the Peloponnesian War, that tsunamis were related to submarine earthquakes, but the understanding of a tsunami's nature remained slim until the 20th century and much remains unknown. Major areas of current research include trying to determine why some large earthquakes do not generate tsunamis while other smaller ones do; trying to accurately forecast the passage of tsunamis across the oceans; and also to forecast how tsunami waves would interact with specific shorelines.
Tsunami are sometimes referred to as tidal waves, which are unusually high sea waves that are triggered especially by earthquakes. In recent years, this term has fallen out of favor, especially in the scientific community, because tsunami actually have nothing to do with tides. The once-popular term derives from their most common appearance, which is that of an extraordinarily high tidal bore. Tsunami and tides both produce waves of water that move inland, but in the case of tsunami the inland movement of water is much greater and lasts for a longer period, giving the impression of an incredibly high tide. Although the meanings of "tidal" include "resembling"or "having the form or character of" the tides, and the term tsunami is no more accurate because tsunami are not limited to harbours, use of the term tidal wave is discouraged by geologists and oceanographers.
There are only a few other languages that have an equivalent native word. In Acehnese language, the words are ië beunaor alôn buluëk (depending on the dialect). In Tamil language, it is aazhi peralai. On Simeulue island, off the western coast of Sumatra in Indonesia, in Devayan language the word is smong, while in Sigulai language it is emong. In Singkil (in Aceh province) and surrounding, the people name tsunami with word gloro.
Taken at Ao Nang, Krabi Province, Thailand, during the 2004 Indian Ocean earthquake and tsunami in Thailand

History
The Russians of Pavel Lebedev-Lastochkin in Japan, with their ships tossed inland by a tsunami, meeting some Japanese in 1779. As early as 426 BC the Greek historian Thucydides inquired in his book History of the Peloponnesian War about the causes of tsunami, and was the first to argue that ocean earthquakes must be the cause.
"The cause, in my opinion, of this phenomenon must be sought in the earthquake. At the point where its shock has been the most violent the sea is driven back, and suddenly recoiling with redoubled force, causes the inundation. Without an earthquake I do not see how such an accident could happen."
The Roman historian Ammianus Marcellinus (Res Gestae 26.10.15-19) described the typical sequence of a tsunami, including an incipient earthquake, the sudden retreat of the sea and a following gigantic wave, after the 365 AD tsunami devastated Alexandria.
While Japan may have the longest recorded history of tsunamis, the sheer destruction caused by the 2004 Indian Ocean earthquake and tsunami event mark it as the most devastating of its kind in modern times, killing around 230,000 people. The Sumatran region is not unused to tsunamis either, with earthquakes of varying magnitudes regularly occurring off the coast of the island.

Flora

Flora is the plant life occurring in a particular region or time, generally the naturally occurring or indigenous—native plant life. The corresponding term for animal life is fauna. Flora, fauna and other forms of life such as fungi are collectively referred to as biota. Bacterial organisms, algae, and other organisms are sometimes referred to as flora, so that for example the terms bacterial flora and plant flora are used separately.

Etymology
"Flora" comes from the Latin name of Flora, the goddess of plants, flowers, and fertility in Roman mythology.

Flora classifications
Plants are grouped into floras based on region, period, special environment, or climate. Regions can be geographically distinct habitats like mountain vs. flatland. Floras can mean plant life of a historic era as in fossil flora. Lastly, floras may be subdivided by special environments:
•    Native flora. The native and indigenous flora of an area.
•    Agricultural and Horticultural flora (garden flora). The plants that are deliberately grown by humans.
•    Weed flora. Traditionally this classification was applied to plants regarded as undesirable, and studied in efforts to control or eradicate them. Today the designation is less often used as a classification of plant life, since it includes three different types of plants: weedy species, invasive species (that may or may not be weedy), and native and introduced non-weedy species that are agriculturally undesirable. Many native plants previously considered weeds have been shown to be beneficial or even necessary to various ecosystems.

Flora treatises
A fossil leaf from the extinct Comptonia columbiana, 48.5 million years old. Klondike Mountain Formation, Republic, Ferry County, Washington, USA. Stonerose Interpretive Center.
A flora treatise (usually simply known as a Flora), requires specialist botanical knowledge to use with any effectiveness. Traditionally flora treatises are books, but some are now published on CD-ROM or websites.
It is said that the Flora Sinensis by the Polish Jesuit Michał Boym was the first book that used the name "Flora" in this meaning, a book covering the plant world of a region. However, despite its title it covered not only plants, but also some animals of the region.
A flora often contains diagnostic keys. Often these are dichotomous keys, which require the user to repeatedly examine a plant, and decide which one of two alternatives given in the flora best applies to the plant.
A compendium of world floras has been compiled by David Frodin.

Classic floras
Europe
•    Flora Londinensis, William Curtis. England 1777- 1798
•    Flora Graeca, John Sibthorp. (England) 1806 - 1840
•    Flora Danica, Simon Paulli. Denmark, 1847.
•    Flora Jenensis, Heinrich Bernhard Rupp Germany, 1718.
•    Flora Suecica, Carolus Linnaeus. 1745.
India
•    Hortus indicus malabaricus, Hendrik van Rheede 1683–1703
Indonesia
•    Flora Javae, Carl Ludwig Blume and Joanne Baptista Fischer. 1828.
Iran
•    Flora of Iran
Pakistan
•    Flora of Pakistan
China
•    Flora Sinensis, Michał Boym, 1656
America
•    Flora Brasiliensis, Martius, Endlicher, et al. 1840 to 1906
Fauna

Fauna is all of the animal life of any particular region or time. The corresponding term for plants is flora. Flora, fauna and other forms of life such as fungi are collectively referred to as biota. Zoologists and paleontologists use fauna to refer to a typical collection of animals found in a specific time or place, e.g. the "Sonoran Desert fauna" or the "Burgess Shale fauna".
Paleontologists sometimes refer to a sequence of faunal stages, which is a series of rocks all containing similar fossils.

Etymology
"Fauna" comes from the Latin names of Fauna, a Roman goddess of earth and fertility, the Roman god Faunus, and the related forest spirits called Fauns. All three words are cognates of the name of the Greek god Pan, and panis is the Greek equivalent of fauna. Fauna is also the word for a book that catalogues the animals in such a manner. The term was first used by Linnaeus in the title of his 1745 work Fauna Suecica.
Subdivisions of fauna
Cryofauna
Cryofauna are animals that live in, or very close to, ice.
Cryptofauna
Cryptofauna are animals that are rarely seen and may be extinct or mythological.
Infauna
Infauna are benthic organisms that live within the bottom substratum of a body of water, especially within the bottom-most oceanic sediments, rather than on its surface. Bacteria and microalgae may also live in the interstices of bottom sediments. In general infaunal animals become progressively smaller and less abundant with increasing water depth and distance from shore, whereas bacteria show more constancy in abundance, tending toward one billion cells per milliliter of interstitial seawater.
Epifauna
Epifauna, also called epibenthos, are aquatic animals that live on the bottom substratum as opposed to within it, that is, the benthic fauna that live on top of the sediment surface at the seafloor.
Macrofauna
Macrofauna are benthic or soil organisms which are retained on a 0.5mm sieve. Studies in the deep sea define macrofauna as animals retained on a 0.3mm sieve to account for the small size of many of the taxa.
Megafauna
Main article: Megafauna
Megafauna are large animals of any particular region or time. For example, Australian megafauna.
Meiofauna
Meiofauna are small benthic invertebrates that live in both marine and fresh water environments. The term Meiofauna loosely defines a group of organisms by their size, larger than microfauna but smaller than macrofauna, rather than a taxonomic grouping. One environment for meiofauna is between grains of damp sand (see Mystacocarida).
In practice these are metazoan animals that can pass unharmed through a 0.5 – 1 mm mesh but will be retained by a 30 – 45 μm mesh, but the exact dimensions will vary from researcher to researcher. Whether an organism passes through a 1 mm mesh also depends upon whether it is alive or dead at the time of sorting
Mesofauna
Mesofauna are macroscopic soil invertebrates such as arthropods or nematodes. Mesofauna are extremely diverse; considering just the springtails (Collembola), as of 1998, approximately 6,500 species had been identified.
Microfauna
Main article: Microfauna
Microfauna are microscopic or very small animals (usually including protozoans and very small animals such as rotifers).
Other
Other terms include avifauna, which means "bird fauna" and piscifauna (or ichthyofauna), which means "fish fauna".



Weather

Weather is the state of the atmosphere, to the degree that it is hot or cold, wet or dry, calm or stormy, clear or cloudy. Most weather phenomena occur in the troposphere, just below the stratosphere. Weather generally refers to day-to-day temperature and precipitation activity, whereas climate is the term for the average atmospheric conditions over longer periods of time. When used without qualification, "weather" is understood to be the weather of Earth.
Weather is driven by air pressure (temperature and moisture) differences between one place and another. These pressure and temperature differences can occur due to the sun angle at any particular spot, which varies by latitude from the tropics. The strong temperature contrast between polar and tropical air gives rise to the jet stream. Weather systems in the mid-latitudes, such as extratropical cyclones, are caused by instabilities of the jet stream flow. Because the Earth's axis is tilted relative to its orbital plane, sunlight is incident at different angles at different times of the year. On Earth's surface, temperatures usually range ±40 °C (−40 °F to 100 °F) annually. Over thousands of years, changes in Earth's orbit affect the amount and distribution of solar energy received by the Earth and influence long-term climate and global climate change.
Surface temperature differences in turn cause pressure differences. Higher altitudes are cooler than lower altitudes due to differences in compressional heating. Weather forecasting is the application of science and technology to predict the state of the atmosphere for a future time and a given location. The atmosphere is a chaotic system, so small changes to one part of the system can grow to have large effects on the system as a whole. Human attempts to control the weather have occurred throughout human history, and there is evidence that human activity such as agriculture and industry has inadvertently modified weather patterns.
Studying how the weather works on other planets has been helpful in understanding how weather works on Earth. A famous landmark in the Solar System, Jupiter's Great Red Spot, is an anticyclonic storm known to have existed for at least 300 years. However, weather is not limited to planetary bodies. A star's corona is constantly being lost to space, creating what is essentially a very thin atmosphere throughout the Solar System. The movement of mass ejected from the Sun is known as the solar wind.

Cause
On Earth, common weather phenomena include wind, cloud, rain, snow, fog and dust storms. Less common events include natural disasters such as tornadoes, hurricanes, typhoons and ice storms. Almost all familiar weather phenomena occur in the troposphere (the lower part of the atmosphere). Weather does occur in the stratosphere and can affect weather lower down in the troposphere, but the exact mechanisms are poorly understood.
Weather occurs primarily due to air pressure (temperature and moisture) differences between one place to another. These differences can occur due to the sun angle at any particular spot, which varies by latitude from the tropics. In other words, the farther from the tropics one lies, the lower the sun angle is, which causes those locations to be cooler due to the indirect sunlight. The strong temperature contrast between polar and tropical air gives rise to the jet stream. Weather systems in the mid-latitudes, such as extratropical cyclones, are caused by instabilities of the jet stream flow (see baroclinity). Weather systems in the tropics, such as monsoons or organized thunderstorm systems, are caused by different processes.
Because the Earth's axis is tilted relative to its orbital plane, sunlight is incident at different angles at different times of the year. In June the Northern Hemisphere is tilted towards the sun, so at any given Northern Hemisphere latitude sunlight falls more directly on that spot than in December (see Effect of sun angle on climate).  This effect causes seasons. Over thousands to hundreds of thousands of years, changes in Earth's orbital parameters affect the amount and distribution of solar energy received by the Earth and influence long-term climate. (See Milankovitch cycles).
The uneven solar heating (the formation of zones of temperature and moisture gradients, or frontogenesis) can also be due to the weather itself in the form of cloudiness and precipitation. Higher altitudes are cooler than lower altitudes, which is explained by the lapse rate. On local scales, temperature differences can occur because different surfaces (such as oceans, forests, ice sheets, or man-made objects) have differing physical characteristics such as reflectivity, roughness, or moisture content.




Climate

Climate is the pattern of variation in temperature, humidity, atmospheric pressure, wind, precipitation, atmospheric particle count and other meteorological variables in a given region over long periods. Climate can be contrasted to weather, which is the present condition of these variables over shorter periods. A region's climate is generated by the climate system, which has five components: atmosphere, hydrosphere, cryosphere, land surface, and biosphere.
The climate of a location is affected by its latitude, terrain, and altitude, as well as nearby water bodies and their currents. Climates can be classified according to the average and the typical ranges of different variables, most commonly temperature and precipitation. The most commonly used classification scheme was originally developed by Wladimir Köppen. The Thornthwaite system, in use since 1948, incorporates evapotranspiration along with temperature and precipitation information and is used in studying animal species diversity and potential effects of climate changes. The Bergeron and Spatial Synoptic Classification systems focus on the origin of air masses that define the climate of a region.
Paleoclimatology is the study of ancient climates. Since direct observations of climate are not available before the 19th century, paleoclimates are inferred from proxy variables that include non-biotic evidence such as sediments found in lake beds and ice cores, and biotic evidence such as tree rings and coral. Climate models are mathematical models of past, present and future climates. Climate change may occur over long and short timescales from a variety of factors; recent warming is discussed in global warming.

Definition
Climate (from Ancient Greek klima, meaning inclination) is commonly defined as the weather averaged over a long period. The standard averaging period is 30 years, but other periods may be used depending on the purpose. Climate also includes statistics other than the average, such as the magnitudes of day-to-day or year-to-year variations. The Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) glossary definition is:
Climate in a narrow sense is usually defined as the "average weather," or more rigorously, as the statistical description in terms of the mean and variability of relevant quantities over a period ranging from months to thousands or millions of years. The classical period is 30 years, as defined by the World Meteorological Organization (WMO). These quantities are most often surface variables such as temperature, precipitation, and wind. Climate in a wider sense is the state, including a statistical description, of the climate system.
The difference between climate and weather is usefully summarized by the popular phrase "Climate is what you expect, weather is what you get." Over historical time spans there are a number of nearly constant variables that determine climate, including latitude, altitude, proportion of land to water, and proximity to oceans and mountains. These change only over periods of millions of years due to processes such as plate tectonics. Other climate determinants are more dynamic: the thermohaline circulation of the ocean leads to a 5 °C (9 °F) warming of the northern Atlantic Ocean compared to other ocean basins. Other ocean currents redistribute heat between land and water on a more regional scale. The density and type of vegetation coverage affects solar heat absorption, water retention, and rainfall on a regional level. Alterations in the quantity of atmospheric greenhouse gases determines the amount of solar energy retained by the planet, leading to global warming or global cooling. The variables which determine climate are numerous and the interactions complex, but there is general agreement that the broad outlines are understood, at least insofar as the determinants of historical climate change are concerned.

Climate classification
There are several ways to classify climates into similar regimes. Originally, climes were defined in Ancient Greece to describe the weather depending upon a location's latitude. Modern climate classification methods can be broadly divided into genetic methods, which focus on the causes of climate, and empiric methods, which focus on the effects of climate. Examples of genetic classification include methods based on the relative frequency of different air mass types or locations within synoptic weather disturbances. Examples of empiric classifications include climate zones defined by plant hardiness, evapotranspiration, or more generally the Köppen climate classification which was originally designed to identify the climates associated with certain biomes. A common shortcoming of these classification schemes is that they produce distinct boundaries between the zones they define, rather than the gradual transition of climate properties more common in nature.

Earthquake

An earthquake (also known as a quake, tremor or temblor) is the result of a sudden release of energy in the Earth's crust that creates seismic waves. The seismicity, seismism or seismic activity of an area refers to the frequency, type and size of earthquakes experienced over a period of time.
Earthquakes are measured using observations from seismometers. The moment magnitude is the most common scale on which earthquakes larger than approximately 5 are reported for the entire globe. The more numerous earthquakes smaller than magnitude 5 reported by national seismological observatories are measured mostly on the local magnitude scale, also referred to as the Richter scale. These two scales are numerically similar over their range of validity. Magnitude 3 or lower earthquakes are mostly almost imperceptible or weak and magnitude 7 and over potentially cause serious damage over larger areas, depending on their depth. The largest earthquakes in historic times have been of magnitude slightly over 9, although there is no limit to the possible magnitude. The most recent large earthquake of magnitude 9.0 or larger was a 9.0 magnitude earthquake in Japan in 2011 (as of October 2012), and it was the largest Japanese earthquake since records began. Intensity of shaking is measured on the modified Mercalli scale. The shallower an earthquake, the more damage to structures it causes, all else being equal. 

At the Earth's surface, earthquakes manifest themselves by shaking and sometimes displacement of the ground. When the epicenter of a large earthquake is located offshore, the seabed may be displaced sufficiently to cause a tsunami. Earthquakes can also trigger landslides, and occasionally volcanic activity.
Damaged buildings in Port-au-Prince, Haiti, January 2010.
In its most general sense, the word earthquake is used to describe any seismic event — whether natural or caused by humans — that generates seismic waves. Earthquakes are caused mostly by rupture of geological faults, but also by other events such as volcanic activity, landslides, mine blasts, and nuclear tests. An earthquake's point of initial rupture is called its focus or hypocenter. The epicenter is the point at ground level directly above the hypocenter.



Naturally occurring earthquakes
Tectonic earthquakes occur anywhere in the earth where there is sufficient stored elastic strain energy to drive fracture propagation along a fault plane. The sides of a fault move past each other smoothly and aseismically only if there are no irregularities or asperities along the fault surface that increase the frictional resistance. Most fault surfaces do have such asperities and this leads to a form of stick-slip behaviour. Once the fault has locked, continued relative motion between the plates leads to increasing stress and therefore, stored strain energy in the volume around the fault surface. This continues until the stress has risen sufficiently to break through the asperity, suddenly allowing sliding over the locked portion of the fault, releasing the stored energy. This energy is released as a combination of radiated elastic strain seismic waves, frictional heating of the fault surface, and cracking of the rock, thus causing an earthquake. This process of gradual build-up of strain and stress punctuated by occasional sudden earthquake failure is referred to as the elastic-rebound theory. It is estimated that only 10 percent or less of an earthquake's total energy is radiated as seismic energy. Most of the earthquake's energy is used to power the earthquake fracture growth or is converted into heat generated by friction. Therefore, earthquakes lower the Earth's available elastic potential energy and raise its temperature, though these changes are negligible compared to the conductive and convective flow of heat out from the Earth's deep interior.

Earthquake fault types
Main article: Fault (geology)
There are three main types of fault, all of which may cause an earthquake: normal, reverse (thrust) and strike-slip. Normal and reverse faulting are examples of dip-slip, where the displacement along the fault is in the direction of dip and movement on them involves a vertical component. Normal faults occur mainly in areas where the crust is being extended such as a divergent boundary. Reverse faults occur in areas where the crust is being shortened such as at a convergent boundary. Strike-slip faults are steep structures where the two sides of the fault slip horizontally past each other; transform boundaries are a particular type of strike-slip fault. Many earthquakes are caused by movement on faults that have components of both dip-slip and strike-slip; this is known as oblique slip.

Flood

A flood is an overflow of water that submerges land which is normally dry. The European Union (EU) Floods Directive defines a flood as a covering by water of land not normally covered by water.[2] In the sense of "flowing water", the word may also be applied to the inflow of the tide. Flooding may occur as an overflow of water from water bodies, such as a river or lake, in which the water overtops or breaks levees, resulting in some of that water escaping its usual boundaries, or it may occur due to an accumulation of rainwater on saturated ground in an areal flood. While the size of a lake or other body of water will vary with seasonal changes in precipitation and snow melt, these changes in size are unlikely to be considered significant unless they flood property or drown domestic animals.
Floods can also occur in rivers when the flow rate exceeds the capacity of the river channel, particularly at bends or meanders in the waterway. Floods often cause damage to homes and businesses if they are in the natural flood plains of rivers. While riverine flood damage can be eliminated by moving away from rivers and other bodies of water, people have traditionally lived and worked by rivers because the land is usually flat and fertile and because rivers provide easy travel and access to commerce and industry.
Some floods develop slowly, while others such as flash floods, can develop in just a few minutes and without visible signs of rain. Additionally, floods can be local, impacting a neighbourhood or community, or very large, affecting entire river basins.

Etymology
The word "flood" comes from the Old English flod, a word common to Germanic languages (compare German Flut, Dutch vloed from the same root as is seen in flow, float; also compare with Latin fluctus, flumen). Deluge myths are mythical stories of a great flood sent by a deity or deities to destroy civilization as an act of divine retribution, and they are featured in the mythology of many cultures.

Flooding near Key West, Florida, United States from Hurricane Wilma's storm surge in October 2005.

Principal types and causes
Areal (rainfall related)
Floods can happen on flat or low-lying areas when the ground is saturated and water either cannot run off or cannot run off quickly enough to stop accumulating. This may be followed by a river flood as water moves away from the floodplain into local rivers and streams.
Floods can also occur if water falls on an impermeable surface, such as concrete, paving or frozen ground, and cannot rapidly dissipate into the ground.
Localised heavy rain from a series of storms moving over the same area can cause areal flash flooding when the rate of rainfall exceeds the drainage capacity of the area. When this occurs on tilled fields, it can result in a muddy flood where sediments are picked up by run off and carried as suspended matter or bed load.
Riverine
River flows may rise to floods levels at different rates, from a few minutes to several weeks, depending on the type of river and the source of the increased flow.
Slow rising floods most commonly occur in large rivers with large catchment areas. The increase in flow may be the result of sustained rainfall, rapid snow melt, monsoons, or tropical cyclones. Localised flooding may be caused or exacerbated by drainage obstructions such as landslides, ice, or debris.
Rapid flooding events, including flash floods, more often occur on smaller rivers, rivers with steep valleys or rivers that flow for much of their length over impermeable terrain. The cause may be localised convective precipitation (intense thunderstorms) or sudden release from an upstream impoundment created behind a dam, landslide, or glacier.
Dam-building beavers can flood low-lying urban and rural areas, occasionally causing some damage.
Estuarine and coastal
Flooding in estuaries is commonly caused by a combination of sea tidal surges caused by winds and low barometric pressure, and they may be exacerbated by high upstream river flow.
Coastal areas may be flooded by storm events at sea, resulting in waves over-topping defences or in severe cases by tsunami or tropical cyclones. A storm surge, from either a tropical cyclone or an extratropical cyclone, falls within this category.

Landslide

A landslide or landslip is a geological phenomenon which includes a wide range of ground movement, such as rockfalls, deep failure of slopes and shallow debris flows, which can occur in offshore, coastal and onshore environments. Although the action of gravity is the primary driving force for a landslide to occur, there are other contributing factors affecting the original slope stability. Typically, pre-conditional factors build up specific sub-surface conditions that make the area/slope prone to failure, whereas the actual landslide often requires a trigger before being released.
Causes
Main article: Causes of landslides

The Mameyes Landslide, in the Mameyes neighborhood of barrio Portugués Urbano in Ponce, Puerto Rico, which buried more than 100 homes, was caused by extensive accumulation of rains and, according to some sources, lightning.
Landslides occur when the stability of a slope changes from a stable to an unstable condition. A change in the stability of a slope can be caused by a number of factors, acting together or alone. Natural causes of landslides include:
•    groundwater (porewater) pressure acting to destabilize the slope
•    Loss or absence of vertical vegetative structure, soil nutrients, and soil structure (e.g. after a wildfire)
•    erosion of the toe of a slope by rivers or ocean waves
•    weakening of a slope through saturation by snowmelt, glaciers melting, or heavy rains
•    earthquakes adding loads to barely stable slope
•    earthquake-caused liquefaction destabilizing slopes
•    volcanic eruptions
Landslides are aggravated by human activities, Human causes include:
•    deforestation, cultivation and construction, which destabilize the already fragile slopes
•    vibrations from machinery or traffic
•    blasting
•    earthwork which alters the shape of a slope, or which imposes new loads on an existing slope
•    in shallow soils, the removal of deep-rooted vegetation that binds colluvium to bedrock
•    Construction, agricultural or forestry activities (logging) which change the amount of water which infiltrates the soil.
Debris flow
Slope material that becomes saturated with water may develop into a debris flow or mud flow. The resulting slurry of rock and mud may pick up trees, houses and cars, thus blocking bridges and tributaries causing flooding along its path.
Debris flow is often mistaken for flash flood, but they are entirely different processes. Muddy-debris flows in alpine areas cause severe damage to structures and infrastructure and often claim human lives. Muddy-debris flows can start as a result of slope-related factors and shallow landslides can dam stream beds, resulting in temporary water blockage. As the impoundments fail, a "domino effect" may be created, with a remarkable growth in the volume of the flowing mass, which takes up the debris in the stream channel. The solid-liquid mixture can reach densities of up to 2 tons/m³ and velocities of up to 14 m/s (Chiarle and Luino, 1998; Arattano, 2003). These processes normally cause the first severe road interruptions, due not only to deposits accumulated on the road (from several cubic metres to hundreds of cubic metres), but in some cases to the complete removal of bridges or roadways or railways crossing the stream channel. Damage usually derives from a common underestimation of mud-debris flows: in the alpine valleys, for example, bridges are frequently destroyed by the impact force of the flow because their span is usually calculated only for a water discharge. For a small basin in the Italian Alps (area = 1.76 km²) affected by a debris flow, Chiarle and Luino (1998)[citation needed] estimated a peak discharge of 750 m3/s for a section located in the middle stretch of the main channel. At the same cross section, the maximum foreseeable water discharge (by HEC-1), was 19 m³/s, a value about 40 times lower than that calculated for the debris flow that occurred.

Erosion
Erosion is the process by which soil and rock are removed from the Earth's surface by exogenetic processes such as wind or water flow, and then transported and deposited in other locations. While erosion is a natural process, human activities have increased by 10-40 times the rate at which erosion is occurring globally. Excessive erosion causes problems such as desertification, decreases in agricultural productivity due to land degradation, sedimentation of waterways, and ecological collapse due to loss of the nutrient rich upper soil layers. Water and wind erosion are now the two primary causes of land degradation; combined, they are responsible for 84% of degraded acreage, making excessive erosion one of the most significant global environmental problems.
Industrial agriculture, deforestation, roads, anthropogenic climate change and urban sprawl are amongst the most significant human activities in regard to their effect on stimulating erosion.[3] However, there are many prevention and remediation practices that can curtail or limit erosion of denuded soils.
Physical processes
Rainfall

A hillside covered in rills and gullies due to erosion processes caused by rainfall
There are four primary types of erosion that occur as a direct result of rainfall—splash erosion,sheet erosion, rill erosion, and gully erosion. Splash erosion is generally seen as the first and least severe stage in the soil erosion process, which is followed by sheet erosion, then rill erosion and finally gully erosion (the most severe of the four).
In splash erosion, the impact of a falling raindrop creates a small crater in the soil, ejecting soil particles. The distance these soil particles travel can be as much as two feet vertically and five feet horizontally on level ground. Once the rate of rainfall is faster than the rate of infiltration into the soil, surface runoff occurs and carries the loosened soil particles down the slope. Sheet erosion is the transport of loosened soil particles by overland flow.
Rill erosion refers to the development of small, ephemeral concentrated flow paths which function as both sediment source and sediment delivery systems for erosion on hillslopes. Generally, where water erosion rates on disturbed upland areas are greatest, rills are active. Flow depths in rills are typically on the order of a few centimeters or less and slopes may be quite steep. This means that rills exhibit very different hydraulic physics than water flowing through the deeper, wider channels of streams and rivers. Gully erosion occurs when runoff water accumulates, and then rapidly flows in narrow channels during or immediately after heavy rains or melting snow, removing soil to a considerable depth.
Rivers and streams
Dobbingstone Burn, Scotland—This photo illustrates two different types of erosion affecting the same place. Valley erosion is occurring due to the flow of the stream, and the boulders and stones (and much of the soil) that are lying on the edges are glacial till that was left behind as ice age glaciers flowed over the terrain.
Valley or stream erosion occurs with continued water flow along a linear feature. The erosion is both downward, deepening the valley, and headward, extending the valley into the hillside. In the earliest stage of stream erosion, the erosive activity is dominantly vertical, the valleys have a typical V cross-section and the stream gradient is relatively steep. When some base level is reached, the erosive activity switches to lateral erosion, which widens the valley floor and creates a narrow floodplain. The stream gradient becomes nearly flat, and lateral deposition of sediments becomes important as the stream meanders across the valley floor. In all stages of stream erosion, by far the most erosion occurs during times of flood, when more and faster-moving water is available to carry a larger sediment load. In such processes, it is not the water alone that erodes: suspended abrasive particles, pebbles and boulders can also act erosively as they traverse a surface, in a process known as traction.
Bank erosion is the wearing away of the banks of a stream or river. This is distinguished from changes on the bed of the watercourse, which is referred to as scour. Erosion and changes in the form of river banks may be measured by inserting metal rods into the bank and marking the position of the bank surface along the rods at different times.



Reforestation

Reforestation is the natural or intentional restocking of existing forests and woodlands that have been depleted, usually through deforestation. Reforestation can be used to improve the quality of human life by soaking up pollution and dust from the air, rebuild natural habitats and ecosystems, mitigate global warming since forests facilitate biosequestration of atmospheric carbon dioxide, and harvest for resources, particularly timber.
The term reforestation is similar to afforestation, the process of restoring and recreating areas of woodlands or forests that may have existed long ago but were deforested or otherwise removed at some point in the past. Sometimes the term re-afforestation is used to distinguish between the original forest cover and the later re-growth of forest to an area. Special tools, e.g. tree planting bar, are used to make planting of trees easier and faster.

Management
Reforestation of large areas can be done through the use of measuring rope (for accurate plant spacing) and dibbers, (or wheeled augers for planting the larger trees) for making the hole in which a seedling or plant can be inserted. Indigenous soil inoculants (e.g., Laccaria bicolor) can optionally be used to increase survival rates in hardy environments.
A debatable issue in managed reforestation is whether or not the succeeding forest will have the same biodiversity as the original forest. If the forest is replaced with only one species of tree and all other vegetation is prevented from growing back, a monoculture forest similar to agricultural crops would be the result. However, most reforestation involves the planting of different feedlots of seedlings taken from the area often of multiple species. Another important factor is the natural regeneration of a wide variety of plant and animal species that can occur on a clear cut. In some areas the suppression of forest fires for hundreds of years has resulted in large single aged and single species forest stands. The logging of small clear cuts and or prescribed burning, actually increases the biodiversity in these areas by creating a greater variety of tree stand ages and species.



For harvesting
Reforestation need not be only used for recovery of accidentally destroyed forests. In some countries, such as Finland, the forests are managed by the wood products and pulp and paper industry. In such an arrangement, like other crops, trees are replanted wherever they are cut. In such circumstances, the industry can cut the trees in a way to allow easier reforestation. The wood products industry systematically replaces many of the trees it cuts, employing large numbers of summer workers for tree planting work. For example, in 2010, Weyerhaeuser reported planting 50 million seedlings.
In just 20 years, a teak plantation in Costa Rica can produce up to about 400 m of wood per hectare. As the natural teak forests of Asia become more scarce or difficult to obtain, the prices commanded by plantation-grown teak grow higher every year. Other species such as mahogany grow slower than teak in Tropical America but are also extremely valuable. Faster growers include pine, eucalyptus, and Gmelina.
Reforestation, if several native species are used, can provide other benefits in addition to financial returns, including restoration of the soil, rejuvenation of local flora and fauna, and the capturing and sequestering of 38 tons of carbon dioxide per hectare per year.[citation needed]
The reestablishment of forests is not just simple tree planting. Forests are made up of a diversity of species and they build dead organic matter into soils over time. A major tree-planting program in a place like this would enhance the local climate and reduce the demands of burning large amounts of fossil fuels for cooling in the summer.

For climate change mitigation
Forests are an important part of the global carbon cycle because trees and plants absorb carbon dioxide through photosynthesis. By removing this greenhouse gas from the air, forests function as terrestrial carbon sinks, meaning they store large amounts of carbon. At any time, forests account for as much as double the amount of carbon in the atmosphere. Even as more anthropogenic carbon is produced, forests remove around three billion tons of anthropogenic carbon every year. This amounts to about 30% of all carbon dioxide emissions from fossil fuels. Therefore, an increase in the overall forest cover around the world would tend to mitigate global warming.

Selasa, 18 Juni 2013

Bekal Menjadi Guru Profesional

Bekal Menjadi Guru Prefesional
BAGIAN PERTAMA
Penulis


1) Pendidikan Guru Berbasis Kompetensi (PBGK) Setelah membaca bagian ini, minimal Anda akan dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut.

  1. Apa yang dimaksud dengan kompetensi?
  2. Kompetensi apa saja yang harus dimiliki oleh guru?
  3. 3Apa yang dikemukakan oleh Konsorsium Ilmu Pendidikan dalam hubungan dengan pendidikan guru berbasis kompetensi?
  4. Apa hubungan PPL dengan pendidikan guru berbasis kompetensi
1.1    Pendahuluan
        Konsep kompetensi pernah diteliti oleh White pada tahun 1959 (periksa Nasution, 2003:182). Di dalam hasil penelitian itu dikemukakan bahwa motivasi kompetensi mempunyai dasar biologis. ini berarti bahwa kompetensi terdapat pula pada binatang, antara lain kemampuan menyelidiki, beraktivitas dan memanipulasi. Lebih lanjut White mengatakan bahwa kegiatan anak tidak dapat dijelaskan dengan dorongan untuk memuaskan kebutuhan makan dan minum atau kebutuhan biologis saja. Anak-anak metnbutuhkan interaksi dengan lingkungan. Melalui interaksi inilah anak-anak akan memperoleh kemampuan atau kompetensi.
         Hasil penelitian White menginformasikan kepada kita bahwa lingkungan atau kondisi tempat anak-anak berada dan dapat berinteraksi akan membentuk kompetensi mereka. lini mengisyaratkan kepada kita bahwa kondisi belajar yang kondusif akan sangat mendukung pencapaian kompetensi.
Pendidikan tinggi mendefinisikan kompetensi sebagai seperangkat tindakan cerdas, penuh tanggung jawab yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas-tugas di bidang pekerjaan tertentu. Jika definisi ini dijadikan acuari, maka akan dikenal kompetensi untuk bidang keguruan, tenaga medis, misalnya. Seseorang dianggap berkompeten dalam bidang tertentu bila ia mampu menunjukkan tindakan cerdas dengan penuh tanggung jawab.
          Kompetensi ini disiapkan melalui sebuah kurikulum yang maampu membawa pembelajarnya mencapai hasil belajar itu. Menurut Depdiknas (2002), pembelajaran berbasis kompetensi mengacu pada kurikulum yang pengembangannya merupakan suatu proses yang dinamis dengan berdarakan pada prinsip-prinsip sebagai berikut.
(1)    Keseimbangan etika, logika, estetika, dan kinestika
(2)    Kesamaan Memperoleh Kesempatan
(3)    Memperkuat Identitas Nasional
(4)    Menghadapi Abad Pengetahuan
(5)    Menyongsong Tantangan Teknologi Informasi dan Komunikasi
(6)    Mengembangkan Keterampilan Hidup
(7)    Mengintegrasikan Unsur-unsur Penting ke Dalam Kurikuler
(8)    PendidikanAlternatif
(9)    BerpusatpadaAnak Sebagai Pembangun Pengetahuan
(10)    Pendidikan Multikultur dan Multibahasa
(11)    Penilaian Berkelanjutan dan Komprehensif
(12)    Pendidikan Sepanjang Hayat

1.2  Program Pengalaman Lapangan dan Pendidikaii Guru Berbasis Kompetensi

PPL adalah salah satu mata kulish di LPTK yang dapat disamakan dengan kuliah praktik di fakultas lain. Kegiatan ini dilakukan untuk mengaplikasikan semua pengetahuan yang diperoleh mahasiswa selama perkuliahan agar mereka siap menghadapi pekerjaan yang menjadi profesinya sesudah menyelesaikan masa studi. Siap menghadapi pekerjaan bermakna bahwa lulusan LPTK siap bekerja, siap melaksanakan semua kegiatan yang harus dilakukan oleh seorang yang berprofesi sebagaiguru, bukan siap latih. Ini berarti pula tidak ada istilah masa percobaan bekerja, dalam hal ini percobaan mengajar, bagi seorang lulusan LPTK. Karena selama di bangku kuliah mereka sudah berlatih mengajar, melalui kegiatan PPL.
PPL adalah ciri khas pendidikan di LPTK yang harus dijalani oleh mahasiswanya sebagai calon guru mereka:
(a)    memperoleh pengalamannyata dalam bidang keguruan,
(b)    dapat menampilkan berbagai metode dan teknik selama di bangku kuliah,
(c)    dapat mempergunakan media mengaj ar,
(d)    dapat     menerapkan     proses   interaksi   sosial  profesi keguruan,
(e)    dapat menuangkan pengetahuan,performance objectives,
(f)    dapat menghadapi dan menyelesaikan kasus yang terjadi dalam proses belajar mengajar, dan
(g)    dapat bertindak danbertutur sebagai seorang guru.
 
Oleh karena itu, agar lulusan LPTK ini benar-benar siap bekerja, pelaksanaan PPL harus ditingkatkan kualitasnya. Upaya peningkatan kualitas itu dapat ditempuh antara lain dengan mengembalikan perhatian personil yang terlibat di dalam kegiatan ini kepada PGBK.
Di dalam Depdikbud (1986:2) dikemukakan bahwa PGBK mempunyai ciri sebagai berikut.
  1. Pendidikan  berangkat   dari   dan  bermuara  pada perangkat kompetensidasarguru.
  2. Pada  saat      seorang      calon  guru     menamatkan pendidikannya, ia sudah harus mengusai keseluruhan kemampuan  keguruan  yang   dipersyaratkan  untuk semua lulusan.
  3. Semua program di lembaga pendidikan guru yang dipecah-pecah menjadi kegiatan yang lebih kecil harus secara eksplisit menunjang pembentukan kemampuan keguruan tertentu.
  4. Untuk   melakukan  penyempurnaan   pelaksanaan pendidikan      yang      berkesinambungan      sangat diutamakan sistem informasi balikan.
          Sebagai realisasi pernyataan di atas, kegiatan PPL haras berlandaskan pada kompetensi dasar guru. Di dalam Depdikbud (1986:3—11) dinyatakan bahwa sepuluh kompetensi yang harus dikuasai oleh seorang guru. Kompetensi dimaksud adalah sebagai beerikut.
(1) kemampuan mengembangkan kepribadian,
(2) menguasai landasaankependidikan,
(3) menguasaubahanpembelajaran,
(4) menyusun program pengajaran,
(5) melaksanakan program pembelajaran,
(6)  menilai hasil dan proses belajar-mengajar yang telah dilaksanakan
(7)   menyelenggarakan program bimbingan
(8)  menyelenggarakan administrasi sekolah
(9)  berinteraksi    dengan    teman    sejawat    dan masyarakat, dan
(10) menyelenggarakan penelitian sederhana untuk keperluan pengajaran 

Konsorsium Ilmu Pendidikan antara lain mengajukan perangkat kompetensi yang merupakan sasaran pembentukan lulusan pendidikan prajabatan guru. Perangkat kompetensi tersebut terdiri dari 3 rumpun, yaitu:
  • kesadaran dan kemampuan mengembangkan diri sebagai individu warga negara berpendidikan tinggi dan sebagai pekerj a professional,
  • penguasaan bidang ilmu sumber bahan ajaran, dan
  • kemampuan menyusun dan menyelenggarakan program pengajaran      dan  tugas-tugas   keguruan  kependidikan lainnya.
      Penguasaan    ketiga    rumpun yang diprogramkan sebagai sasaran  pembentukan  pendidikan  prajabatan  dilakukan   secara bertahap melalui berbagai mata kuliah, yang kemudian semua bermuara pada kegiatan pelatihan PPL.
 
        LPTK, dalam upaya meningkatkan mutu lulusannya, harus menyelenggarakan pendidikan di lembaga itu dengan memperhatikan ha saran Langgulung (1989:245) berikut ini.
  • Sasaran pembelajaran mengarah kepada pengembangan kemahiran berpikir kreatif.
  • Pengembangan kemahiran berpikir kreatif dilakukan secara terpimpin dan diupayakan melalui penerapan pengetahuan yang kreatif.
  • Pengembangan metode dan alat bantu mendorong tumbuhnya kreativitas dan belajar secara kreatif.
  • Penilaian dirancang untuk menilai kreativitas.
  • Pengembangan interaksi guru dan murid dan prinsip untuk menilai pemikiran kreatif.
1.3 Kompetansi Dasar Guru sebagai Acuan Peningkatan Kulitas PPL

         Yang telah dikemukakan pada butir di atas bukanlah sesuatu yang baru. Mantan guru SPG dan SGO serta pengajar pada LPTK, terutama yang pernah mengikuti penataran P3G pasti sudah pernah mengetahui informasi tentang kompetensi dasar itu. Kompetensi guru itu tidak jauh 'berbeda dengan ketiga rumpun hasil rumusan Konsorsium Ilmu Pendidikan. Keduanya adalah instrumen yang dapat digunakan sebagai acuan untuk meningkatkan kualitas PPL.


BAGIAN KEDUA

2. Keterampilan Dasar Mengajar

       Rooijakkers (1993:1) mengartikan mengajar sebagai suatu kegiatan   menyampaikan   atau   menularkan   pengetahuan   dan pandangan. Dalam hal ini baik murid maupun guru harus mengerti bahan yang akan dibicarakan.
           Pengertian di atas tampaknya sangat sederhana. Akan tetapi, sebenarnya pengertian itu tidak cukup diartikan seperti itu saja. Di dalam penyampaian dan penularan pengetahuan serta pandangan itu terdapat sebuah proses. Di dalam proses itu terjadi interaksi yang melibatkan banyak komponen yang turut menyukseskan Itercapainya tujuan yang akan dicapai baik oleh murid maupun oleh guru. Joni dkk, (1982) menyatakan bahwa mengajar bukan hanya proses penyampaian atau penerusan pengetahuan saja. Mengajar adalah perbuatan yang kompleks, yaitu penggunaan secara terpadu sejumlah  keterampilan  untuk menyampaikan pesan.  Pemaduan
        keterampilan itu dilandasi oleh seperangkat teori dan diarahkan oleh suatu wawasan,  sedangkan aplikasinya terjadi secara unik, dalam arti secara simultan dipengaruhi oleh semua komponen belajar mengajar. Komponen   itu adalah tujuan yang ingin dicapai, pesan yang akan disampaikan, subyek didik, fasilitas dan lingkungan belajar, dan tidak kalah pentingnya, guru. Guru yang memiliki keterampilan, kebiasaan, serta wawasan tentang diri dan misinya
sebagai pendidik.

2.1.1 Pengertian

         Abimanyu dan Joni (1982) mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan   membuka   pelajaran adalah kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk menciptakan suasana siap mental dan menimbulkan perhatian murid agar terpusat pada hal-hal yang akan dipelajari.
           Kegiatan membuka pelajaran tidak harus dilakukan pada awal jam pelajaran,    tetapi   juga    pada awal setiap penggal kegiatan inti | pelajaran yang diberikan selamajam pelajaran itu.
Untuk menciptakan suasana siap mental murid terhadap materi yang akan dipelajari, guru dapat melakukan usaha memberikan acuan dan membuat kaitan antara materi pelajaran yang telah dikuasai murid dengan bahanbaru yang akan dipelajari.
        Murid yang siap mental untuk belajar semacam itu adalah mereka yang telah mengetahui tujuan pelajaran, pengetahuan masalah-masalah pokok yang harus diperhatikan, mengetahui langkah-langkah kegiatan belajar yang akan dilakukan, dan mengetahui batas tugas yang harus dikerjakan untuk menguasai pelajaran tersebut. Yang dimaksud dengan menutup pelajaran adalah kegiatan yang dilakukan guru untuk mengakhiri kegiatan inti pelajaran. Usaha menutup pelajaran dimaksudkan untuk memberikan gambaran menyeluruh tentang yang telah dipelajari murid, mengetahui tingkat pencapaian murid dan tingkat keberhasilan guru dalam proses belajar mengajar(baca Abimanyu dan Joni 1982)

2.1.2 Tujuan Membuka dan Menutup Pelajaran
         Membuka dan menutup pelajaran yang dilakukan secara profesional akan memberikan pengaruh positif terhadap kegiatan pemebelajaran (Mulyasa, 2005:83). Mengapa kita harus melakukan kegiatan membuka dan menutup pelajaran dalam kegiatan belajar mengajar? Dari beberapa sumber yang dikompilasi oleh (Joni dan Abimanyu 1982) membuka dan menutup pelajaran dilakukan oleh guru untuk:
  1. menimbulkan   perhatian   dan   motivasi   murid   untuk menghadapitugas-tugas yang akan dikerjakan,
  2. murid mengetahui batas-batas yang akan dikerjakan,.
  3. murid mempunyai gambaran yang jelas tentang pendekatan yang   mungkin diambil dalam mempelajari bagian-bagian dari suatu mata pelajaran,
  4. murid mengetahui hubungan antara pengalaman yang telah dikuasai dengan hal-hal baru yang akan dipelajari atau yang masih asingbaginya,
  5. murid    dapat    menggabungkan fakta, keterampilan atau konsep yang tercakup dalam suatuperistiwa, dan
  6. murid   dapat   mengetahui   tingkat  keberhasilan  dalam mempelajari pelajaran itu.

2.1.3   Prinsip-Prinsip Membuka dan Menutup Pelajaran
        Abimanyu dan Joni (1982) mengemukanakn prinsip yang mendasari penggunaan keterampilan membuka dan menutup pelajaran adalah sebagai berikut.
1)  Bermakna
         Untuk menarik perhatian atau memotivasi murid, gum hendaklah memilih cara yang relevan dengan isi tujuan pelajaran. Cara, menyajikan cerita atau lelucon yang dicari-cari, yang hanya sekedar hendak menimbulkan tertawa murid, harus dihindarkan.
2) Berurutan dan Berkesinambungan
       Aktivitas yang ditempuh oleh guru dalam memperkenalkan dan merangkum kembali pokok-pokok penting pelajaran hendaknya menjadi bagian dari kesatuan yang utuh. Agar prinsip berurutan dan berkesinambungan ini terwujud, perlu diusahakan suatu susunan yang tepat, berhubungan dengan minat murid, ada kaitan yang jelas antara satu bagian dengan bagian yang lain, atau ada kaitannya dengan pengalaman dan pengetahuan yang telah dimiliki murid.

2.1.4 Komponen Keterampilan Membuka dan Menutup Pelajaran
         Keterampilan membuka dan menutup pelajaran masing-masing memiliki komponen. Dalam hal ini, Abimanyu dan Joni (1982) mengeniukakan bahwa komponen membuka dan menutup pelajaran adalab sebagai berikut.
1) Komponen Membuka Pelaj aran
          Pada bagian terdahulu telah dikemukan bahwa membuka pelajaran adalah kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk menciptakan suasana siap mental dan menimbulkan perhatian murid agar terpusat pada hal-hal yang akan dipelajari. Pada awal jam pelajaran atau pada awal penggal kegiatan dalam inti pelajaran, guru melakukan kegiatan membuka pelajaran dengan memperhatikan komponen berikut.
2) Komponen Menutup Pelajaran
          Menjelang akhir suatu jam pelajaran atau pada akhir setiap penggal kegiatan, guru harus melakukan kegiatan menutup pelajaran agar murid memperoleh gambaran yang utuh tentang pokok-pokok materi pelajaran yang dipelajari. Cara-cara  yang  dapat  dilakukan  guru  dalam  menutup pelajaran adalah sebagai berikut.
2.2    Keterampilan Menjelaskan
           Setelah membaca bagian ini, minimal Anda akan dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut.
1)    Apa pengertian menjelaskan?
2)    Apa tujuan memberikan penjelasan?
3)    Apa perlunya keterampilan menjelaskan?
4)    Bagaimana penggunaan keterampilan menjelaskan di kelas?
5)    Apa saja komponen keterampilan menjelaskan?

2.2.1   Pengertian
       Di dalam kehidupan sehari-hari kita seringkali mendengar tuturan atau kalimat "Saya menjelaskan kepada kawan-kawan tentang tamasya ke pulau Bali. Bagaimana keindahan alamnya, keramah-tamahan penduduknya, adat-istiadat dan kebudayaan-nya, serta tari-tariannya yang terkenal. Pada suatu kesempatan orang itu berkata lagi, "Saya menjelaskan kepada murid soya, mengapa pesawat terbang yang beratnya berton-ton itu dapat terbang diudara dan tidakjatuh ke bawah. "
          Istilah menjelaskan pada alinea di atas digunakan pada dua keadaan yang agak berbeda. Pada keadaan yang pertama yang dimaksudkan dengan menjelaskan adalah membuat suatu gambaran tentang suatu keadaan atau peristiwa, sementara pada keadaan yang kedua digunakan untuk menghubungkan sebab-sebab peristiwa alam yang jika diberikan pada saat lain dengan kondisi yangsama akanberlaku juga untuk benda lain.

2.2.2 Tujuan Memberikan Penjelasan
            Kosasidan Joni (1982) mengemukakan bahwa keterampilan menjelaskan dapat dipakai untuk semua mata pelajaran dan di segala jenjang pendidikan. Akan tetapi, penyampaian dan kualitasnya berbeda. Ada beberapa tujuan yang ingin dicapai guru dalam memberikan penjelasan di dalam kelas. Tujuan dimaksud adalah sebagai berikut.
  1. Membimbing murid memahami dengan jelas jawaban pertanyaan mengapa  yang mereka ajukan atau yang dikemukan guru.
  2. Menolong murid mendapatkan dan memahami hukum, dalil, dan prinsip umum secara objektif dan bernalar.
  3. Melibatkan murid untuk berpikir dengan memecahkan masalah atau pertanyaan.
  4. Mendapatkan   balikan   dari   murid   mengenai   tingkat pemahamannya dan untuk mengatasi kesalahpengertian mereka.
  5. Menolong murid menghayati dan mendapatkan proses penalaran  dan penggunaan bukti  dalam  penyelesaian keadaan yang meragukan.

2.2.3   Perlunya Keterampilan Menjelaskan
         Menjelaskan merupakan suatu aspek penting yang harus dimiliki oleh guru, mengingat sebagian besar pembelajaran menuntut guru untuk memberikan penjelasan ( Periksa Kosasi dan Joni, 1982, dan Mulyasa 2005:80). Lebih lanjut Kosasi dan Joni (1982) mengatakan Ada beberapa alasan yang dapat dikemukakan mengenai perlunya keterampilan menjelaskan dikuasai oleh guru dengan baik.
  1. Guru cenderung mendominasi kelas dan sebagian besar kegiatan guru adalah memberikan informasi atau menje¬laskan. Oleh karena itu, amatlah penting meningkatkan efektivitas pembicaraan itu agar benar-benar merupakan penjeiasan yang bermakna bagi murid.
  2. Penjelasan    yang diberikan oleh guru kadang-kadang "tidak jelas" bagi murid, tetapi hanya jelas bagi din guru sendiri.    Hal   ini sering tercermin dalam ucapan guru. Sudahjelas, bukan?
  3. Tidak semua murid dapat menggali sendiri pengetahuan dari buku atau sumber lainnya. Untuk menanggulangi hal itu, guru membantu mereka dengan menjelaskan hal-hal tertenru.
  4. Kurangnya      sumber      yang   tersedia   yang   dapat ditnanfaatkan murid dalam proses belajar. Guru perlu membantu   murid    dengan cara memberikan informasi yang cocok dengan materiyang diperlukan.

2.2.4    Penggunaan Keterampilan Menjelaskan di Kelas
Menjelaskan merupakan keterampilan dasar dalam menyajikan bahan pengajaran yang sering digunakan oleh guru. Tidak terhitung banyaknya pertanyaan yang diajukan di kelas yang Inwabannya memerlukan penjelasan. Dalam kegiatan menjelaskan ada tiga hal yang yang saling berkaitan yaitu, yang menjelaskan (guru), yang mendengar penjelasan (murid), dan hal yang akan dijelaskan (masalah dan pemecahannya). kepada hubungan dan kaitan yang dibuat secara logis antara fakta (bukti) dan hukum umum (generalisasi), dan juga pada penghayatan guru bahwa hal itu secara psikologis dapat diterima oleh sistem panca indera murid.
Beberapa prinsip yang harus diperhatikan di dalam memberikan penjelasan adalah sebagai berikut.
1)    Penjelasan dapat diberikan di awal, di tengah, atau di akhir jam pelajaran, tergantung pada keperluannya. Penjelasan dapat diselingi dengan tanya jawab.
2)    Penjelasan harus relevan dengan tujuan pembelajaran.
3)    Guru dapat   memberikan penjelasan bila ada pertanyaan murid ataupun direncanakan guru sebelumnya.
4)    Penjelasan harus bermakna bagi murid
5)    Penjelasan  harus   sesuai   dengan  latar   belakang   dan kemampuan murid.

2.2.5       Komponen Keterampilan Menjelaskan
Secara garis besar, komponen keterampilan menjelaskan terbagi menjadi dua, yaitu menganalisis dan merencanakan serta menyajikan.
1) Merencanakan Penjelasan
Penjelasan yang diberikan guru perlu direncanakan dengan baik. Dalam merencanakan ini ada dua hal yang harus diperhatikan, yaitu isi pesan yang akan
disampaikan, dan penerima pesaan itu.
2) Menyajikan Penjelasan
Sebuah perencanaan yang baik belum menjamin keberhasilan penyajiannya kepada pendengar. Perencanaan yang baik harus disertai penyajian yang baik pula. Penyajian dapat ditingkatkan hasilnya dengan memperhatikan komponen berikut.
(1)    Kejelasan
(2)     penggunaan contoh dan ilustrasi
(3)    Pemberian tekanan
(4)    Balikan
2.3   Keterampilan Mengelola Kelas
Setelah membaca bagian mi, minimal Anda akan dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut.
1.    Apa pengertian mengelola kelas?
2.    Apa tujuan pengelolaan kelas bagi guru?
3.    Apa tujuan pengelolaan kelas bagi murid?
4.    Apa saja prinsip-prinsip mengelola kelas?
Apa saja komponen keterampilan mengelola kelas? Hal-hal apa saja yang harus dm'mdari da\am pengelolaan kelas?

2.3.1    Pengertian
Sekolah adalah tempat belajar bagi murid, dan tugas guru yang sebagian besar terjadi dalam kelas adalah membelajarkan murid dengan menyediakan kondisi belajar yang optimal. Semiawan (1985:63) mengemukakan bahwa tugas utama guru adalah menciptakan suasana di dalam kelas agar terjadi interaksi belajar-mengajar yang dapat memotivasi murid untuk belajar dengan baik. Agar kegiatan belajar-mengajar berjalan optimal seorang guru harus memiliki kemampuan memanajemeni kelas (periksa Suroso, 2002:93). Tugas di dalam kelas yang berhubungan dengan murid ini berkaitan dengan minat, kehendak, percakapan maupun kegiatan-kegiatan mereka.

1.2 Tujuan Mengelola Murid
Dari berbagai sumber yang dikompilasi oleh Bolla dan Joni (1982) diperoleh informasi bahwa keterampilan mengelola kelas
mepunyai   tujuan, baik bagi murid maupun bagi guru. Tujuan-tujuan itu adalah sebagai berikut.
1)  TujuanuntukMurid
(1)    mendorong murid mengembangkan tanggung jawab individual terhadap tingakah lakunya, serta sadar untuk mengendalikan dirinya.
(2)    membantu   murid   mengerti akan arah tingkah laku yang sesuai dengan tata tertib kelas, dan melihat atau merasakan teguran guru sebagai suatiu peringatan bukan kemarahan, dan
(3)    menimbulkan rasa berkewajiban melibatkan diri dalam tugas serta bertingkah laku yang wajar sesuai dengan aktivitas kelas.
2) Tujuan untuk Murid
(1)    mengembangkan pengertian dan keterampilan dalam memelihara  kelancararan  penyajian  dan  langkah langkah pelajaran secaratepatdanbaik,
(2)    memiliki kesadaran terhadap kedudukan murid dan mengembangkan kompetensinya di dalam membe rikan pengarahan yang j elas kepada murid, dan
(3)    memberi respon secara efektif terhadap tingkah laku murid yang menimbulkan gangguan kecil atau ringan serta   memahami   dan   menguasai   seperangkat kemungkinan strategi yang dapat digunakan dalam hubungan dengan masalah tingkah laku murid   yang berlebih-lebihan atau melawan di kelas.
2.3.3 Prinsip-prinsip Mengelola Kelas
Ada enam prinsip dasar yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan komponen keterampilan mengelola kelas (Bolla dan Joni, 1982). Prinsip-prinsip itu adalah sebagai berikut.
1)   Kehangatan dan Keantusiasan
2)   Tantangan
3)   Bervariasi
4) Keluwesan
5) Penekanan kepada Hal-hal yang Positif
6)PenanamanDisiplinDiri

2.3.4  Komponen Keterampilan Mengelola kelas
Keterampilan mengelola kelas terbagi menjadi dua jenis keterampilan utama. Keterampilan yang dimaksud adalah sebagai berikut.
1)    Keterampilan yang Berhubungan dengan Penciptaan dan PemeliharaanKondisi Belajar yang Optimal
Keterampilan ini berkaitan dengan kemampuan guru didalam mengambil inisiatif dan mengendalikan pelajaran serta kegiatan yang berhubungan dengan hal tersebut.
(1)    Menunjukkan sikap tanggap
(2)    Membagi Perhatian
(3)    Memusatkan Perhatian Kelompok
(4)    Memberikan Petunjuk-petunjuk yang Jelas
(5)    Menegur
(6)    Memberi Penguatan
2) Keterampilan yang Berhubungan dengan Pengembalian Kondisi Belajar yang Optimal
Keterampilan ini berkaitan dengan respon guru terhadap gangguan murid yang berkelanjutan dengan maksud agar guru dapat mengadakan tindakan remedial untuk mengembalikan kondisi belajar yang optimal. Dalam banyak kelas guru sering menghadapi anak-anak yang terus saja mengganggu dan tetap tidak tenang. Walaupun guru telah menggunakan tingkah laku yang efektif dan respon yang sesuai telah diberikan masih saja ada murid atau kelompok murid yang menimbulkan gangguan yang berulang-ulang.

2.3.5  Hal-ha! yang Harus Dihindari
Dalam     usaha mengelola kelas  secara efektif,     ada sejumlah kekeliruan yang harus dihindari guru. Bolla dan Joni (1982) mencatat ada beberapa kekeliruan. Kekeliruan itu adalah sebagai berikut.
1)  CampurTanganyangBerlebihan
2)   Kelenyapan
3)   Ketidaktepatan Memulai dan Mengakhiri Kegiatan
4)   Penyimpangan
5)   Bertele-tele
6)  Pengulangan Penjelasan Secara Tidak Perlu

2.4 Keterampilan Memberi Penguatan
Setelah membaca bagian ini, minimal Anda akan dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut.
1)    Apa pengertian memberikan penguatan?
2)    Apa tujuan memberikan penguatan?
3)    Apa saja prinsip penggunaan keterampilan?
4)    memberikan penguatan di kelas?
5)    Bagaimana cara menggunakan keterampilan memberikan penguatan di kelas?
6)    Apa saja komponen pemberian penguatan?
2.4.1 Pengertian
Dalam kehidupan sehari-hari, usaha kita sering mendapat penghargaan. Sesudah kita menolong seseorang, biasanya orang yang ditolong mengucapkan terimakasih.   Ucapan terima kasih ini    merupakan  satu    penghargaan  atas pertolongan tadi. Upah yang    diterima,    kenaikan    gaji, dan kenaikan pangkat adalah penghargaan    atas    pekerjaan seseorang. Pada urnumnya peng hargaan mempunyai pengaruh positif dalam kehidupan manusia, yaitu  mendorong   seseorang   memperbaiki   tingkah   laku   dan meningkatkan usahanya (Periksa juga Arends, 2001:81).



2.4.2 Tujuan Memberi Penguatan
Pemberian penguatan dan penerapannya secara bijaksana dan sitematis berdasarkan cara dan prinsip yang tepat, akan dapat mencapai beberapa tujuan yang merupakan kemungkinan kemanfaatan dari penggunaan penguatan di kelas. Pah dan Joni (1982) menyebutkan paling sedikit tujuan dan manfaat pemberian penguatan adalah untuk:
1)    meningkatkan perhatian murid.
2)    membangkitkan dan memeiihara motivasi murid.
3)    memudahkan murid belajar.
4)    mengontrol dan memodifikasi tingkah laku murid yang kurang positif serta mendorong munculnya tingkah laku yang produktif.

2.4.3  Prinsip Penggunaan Penguatan
Penggunaan penguatan secara aktif harus memperhatikan tiga prinsip sebagai berikut.
1)    Kehangatan dan keantusiasan
2)    Kebermaknaan
3)    Menghindari penggunaanrespon yang negatif

2.4.4   Cara-caraMemberikan Penguatae diKelas
1)    Penguatan kepada pribaditertentu
2)    Penguatan kepada kelompok murid
3)    Pemberianpenguatan dengan segera
4)    Variasi dalam penggunaan

2.4.5   Komponen Pemberian Penguatan
Keterampilan memberikan penguatan terdiri dari beberapa komponen yang perlu dipahami dan dikuasai penggunaannya  oleh guru agar ia dapat memberikan penguatan secara bijaksana   dan sistematis. Komponen itu adalah sebagai berikut.
1) Penguatan verbal
2) Penguatan nonverbal
3) Penguatan dengan sentuhan
4) Penguatan dengan kegiatan yang menyenangkan
5) Penguatan berupa simbol atau benda
6) Penguatan takpenuh

2.5    Keterampilan Bertanya Dasar dan Lanjut
Setelah membaca bagian ini,  minimal Anda akan dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut.
1.    Apa pengertian bertanya dasar dan lanjut?
2.    Apa tujuan bertanya dasar dan lanjut?
3.    Apa hal-hal yang perlu diperhatikan dalam bertanya dasar dan lanjut?
4.    Apa saja komponen keterampilanbertanya dasar?
5.    Apa saja komponen keterampilan bertanya lanjut?
2.5.1 Pengertian
Bertanya adalah kegiatan yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari di kantor, di rumah, di pasar, di perjalanan, di sekolah dan dimanasaja selaluterjadi kegiatan tanya jawab ini.
Pertanyaan di dalam kehidupan sehari-hari biasanya bertujuan memperoleh informasi mengenai hal yang behim diketahui penanya. Umpanyanya seorang menanyakan harga sebuah kemeja, Pertanyaan ini diajukan kerena ia belum mengetahui harganya dan ingin mengetahuinya. Demikian pula bila seorang dalam perjalanannya menanyakan jalan jurusan ke Bogor. Tujuan pertanyaannya ialah untuk memperoleh informasi yang tempat mengenai jalan ke Bogor yang belum diketahuinya.

2.5.2 Tujuan Penggunaan Keterampilan Bertenya
Menurut penelitian, kemampuan bertanya, adalah salah satu darii lima perilaku pendukung guru yang efektitif (Borich, 1996 dalamMudjiman2006:l 13)
Seorang guru yang mengajukan pertanyaan dengan menggunakan keterampilan bertanya secara tepat dapat mengharapkan tercapainya beberapa tujuan yang merupakan kemungkinan kemanfaatan penggunaan keterampilan bertanyi dalamkelas. Tujuan yang akan dicapai adalah sebagai berikut.
1)    Membangkitkan minat      dan rasa  ingin     tahu  murid terhadap suatupokok bahasan,
2)    Memusatkan  perhatian   rnurid  terhadap   suatu  pokok bahasan atau konsep,
3)    Mendiagnosis kesulitan khusus yang menghambat mum belajar,
4)    Mengembangkan cara belaj ar murid aktif,
5)    Memberikan kesempatan kepada murid untuk mengasi-milasikan informasi,
6)    Mendorong murid mengernukakan pandangannya dalani diskusi, serta
7)    Menguj i dan mengukur hasi 1 belaj ar murid.

2.5.3   Hal-hal yang Perlu Diperhatikan
Dalam usaha pencapaian tujuan tersebut, ada beberapa yang perlu diperhatikan guru waktu menggunakan keterampilan bertanya dalam proses belajar mengajar, baik keterampilan bertanya dasar maupun bertanya lanjut.
1)  Kehangatan dan keantusiasan
2) Kebiasaan yang perlu dihindari
3) Menjawab pertanyaan sendiri
4) Pertanyaan yangmemancing jawaban serentak
5) Pertanyaan Ganda
6) Menentukan murid menjawab

2.5.4 Komponen Keterampilan Bertanya Dasar
Keterampilan bertanya dasar mempunyai beberapa komponen. pemahakan guru tentang komponen-komponen ini serta penguasaan penggunaannya merapakan faktor penting dalam usaha pencapaian tujuan penggunaan pertanyaan dalam kelas. Komponen-komponen itu adalah sebagai berikut.
1)  Penggunaan Pertanyaan Secara Jelas dan Singkat
2) Pemberian acuan
3)   Pemindahan giliran
4)  Penyebaran
5)  Pemberian Waktu Berpikir
6)  Pemberiantuntunan

2.5.5 Komponen Keterampilan Bertanya Lanjut
Keterampilan  bertanya  lanjut  merupakan  kelanjutan  dari keterampilan bertanya dasar. Keterampilan bertanya lanjut yang dikuasai guru meliputi komponen sebagai berikut.
1)  Pengubahan  tunrutan  tingkat  kognitif dalam  menjawab pertanyaan
2)   Pengaturan urutan pertanyaan
3)   Penggunaan pertanyaan pelacak

2.6 Keterampilan Membimbing Diskusi Kelompok Kecil
Setelah membaca bagian ini, minimal Anda akan dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut.
1.    Apa pengertian membimbing diskusi kelompok kecii?
2.    Apa tujuan membimbing diskusi kelompok kecil?
3.    Hal-hal apa yang perlu diperhatikan dalam membimbing diskusi kelompok kecil?
4.    Apa saja komponen keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil?
5.    Hal-hal apa saja yang hams  dihindari dalam membimbing diskusi kelompok kecil?

2.6.1 Pengertian
Diskusi merupakan suatu kegiatan yang biasa dilakukan dalam berbagai lapangan seperti dalam dunia politik, kegiatan sosial, perdagangan, dan kebudayaan. Dari makna kata diskusi dapat diketahui bahwa di dalamnya terlibat lebih dari satu orang. Dengan demikian diskusi selalu terjadi dalam kelompok, baik kelompok besar maupun kecil. Tetapi perlu diingat, tidak semua percakapan datam kelompok dapat disebut diskusi.

2.6.2 Tujuan Penggunaan Pembimbingan Diskusi
Roestiyah   dan   Suharto   (1985:6)   mengemukakan  bahwa proses belajarmelalui diskusi bertujuanagar:
Pertama, murid dapat menggunakan pengetahuan dan pengalamannya untuk memecahkan masalah, tanpa selalu bergantung pada pendapat orang lain. Murid dilatih berpikir dan memecahkan masalah sendiri. Meskipun ada perbedaan pandangan di antara peserta diskusi dan akan muncul jawaban yang berbedapula.
Kedua, murid mampu menyatakan pendapatnya secara lisan dan berlatih mengaplikasikan demokrasi.
Ketiga, murid belajar berpartisipasi suatu masalah di dalam memecahkan.

2.6.3    Hal-hal yang Perlu Diperhatikan
Agar pelaksanaan diskusi kelompok berjalan dengan lancar Roetiyah dan Suharto (1985:7) menyarankan agar guru berperan sebagai
1)  Pengatur lalu lintas pembic araan
2)  Benteng penangkis
3)  Penunjukjalan

2.6.4 Komponen Keterampilan MembimMng Diskusi Kelompok Kecil
Setelah menyelesaikan perencanaan dan persiapan dengan matang, dengan niat untuk memelihara iklim yang terbuka, guru akan memulai berdiskusi
1) MemusatkanPerhatian
2)  Memperjelas Masalah atau Urun Pendapat
3)  Menganalisis Pandangan Murid
4) Meningkatkan Urunan Pikiran murid
5) Menyebarkan Kesempatan Berpartisipasi
6)    Menutup Diskusi

2.6.5 Hal-hal yang Harus Dihindari
Ada beberapa hal yang haras diperhatikan oleh guru di dalam membimbing diskusi keiompok kecil. Guru harus menghindari hal-hal berikut.
1)    Melaksanakan diskusi dengan topik yang tidak sesuai dengan minat dan latar belakang pengetahuan murid.
2)    Mendominasi diskusi antara lain dengan pertanyaan yang terlampau   banyak   dan   menyediakan   jawaban   yang banyak juga.
3)    Membiarkan murid tertentu memonopoli diskusi.
4)    Membiarkan terjadinya penyimpangan dari pembicaraan yang tidak relevan.
5)    Tergesa-gesa meminta respon murid atau mengisi waktu dengan berbicara terus,  sehingga murid tidak sempat berpikir.
6)    Membiarkan murid yang enggan untukberpartisipasi.
7)    Tidak memperjelas atau mendukung urunan pikiran murid
8)    Gagal mengakhiri diskusi secara efektif.
2.7 Keterampilan Mengajar Kelompok Kecil dan Perorangan (MKKP)
Setelah membaca bagian ini, minimal Anda akan dapat rnenjawab pertanyaan-pertanyaan berikut.
1)    Apa pengertian mengajar kelompok kecil dan perorangan?
2)    Apa tujuan mengajar kelompok kecil dan perorangan?
3)    Hal-hal apa saja yang perlu diperhatikan dalam mengajar kelompok kecil dan perorangan
4)    Apa saja komponen keterampilan mengajar kelompok kecil dan perorangan
2.7.1 Pengertian
Keberhasilan pemelajaran adalah keberhasilan peserta didik dalam memperoleh kompetensi dan mencapai tujuan. Keberhasilaii ini tidak terlepas dari keberhasilan guru dalam membimbing merekabelajar baik dalam kelompok kecilmaupun perorangan.

2.7.2 Tujuan Mengajar Kelompok Kecil dan Perorangan
Pengajaran kelompok kecil dan perorangan bertujuan
1)    agar guru dapat memberikan perhatian terhadap setiapj murid,
2)    membina      hubungan  yang   lebih   akrab   antara  guru dan murid, maupun antara murid dan murid,
3)    murid dapat belajar dari temannya sendiri,
4)    memotivasi murid belajar lebih banyak karena harus mengajar temannya,
5)    agar     kreativitas  dan     sifat     kepemimpinan     murid berkembang
6)    kadar proses belajar aktif dalam kegiatan belajar mengajar meningkat

2.7.3 Penggunaan Keterampilan MKKP di Kelas
Memberikan perhatian yang wajar pada perbedaan individual murid dalam bentuk pengajaran kelompok kecil dan perorangan menuntut perabahan baik dalam pengelolaan kelas maupun dalam peran guru. Kalau selama ini guru hampir selalu menghadapi murid dalam kelas besar, kini harus disediakan kesempatan bagi murid untuk bekerja di dalam kelompok kecil, dan bila perlu secara perorangan. Berbagai variasi pengorganisasian dapat digunakan untuk maksud tertentu, yang tentu saja harus disesuaikan dengan tujuan yang ingin dicapai, kemampuan murid., kemampuan guru mengelola, serta fasilitas yang tersedia.

2.7.4 Hal-hal yang Perlu Diperhatikan
Agar dapat menggunakan kelompok kecil dan format perorangan secara efektif, yang perlu diperhatikan oleh guru adalah sebagai berikut.
1)    Guru  yang  sudah  biasa  dengan  pengajaran  klasikal, sebaiknya mulai dengan pengajaran kelompok, kemudian secara bertahap mengarah kepada pengajaran perorangan. Sedangkan calon guru sebaiknya mulai dengan pengajaran perorangan,  kemudian  secara bertahap  ke pengajaran kelompok kecil.
2)    2)   Tidak semua topik dapat dipelajari secara efektif dalam kelompok kecil maupun perorangan. Hal yang bersifat umum    seperti    pengarahan,    dan    informasi    umum, sebaiknya diberikan dalam bentuk kelas besar.
3)    Dalam pengajaran kelompok kecil, langkah pertama yang harus dikerjakan guru adalah mengorganisasikan murid, sumber,  materi,  ruang,  serta  waktu  yang  diperlukan. Langkah ini merupakan landasan bagi berlangsungnya kegiatan.
4)    Kegiatan pengajaran kelompok kecil yang efektif diakhiri dengan suatu kulminasi yang dapat berupa rangkuman, pemantapan,   dan laporan   yang memungkinkan   murid salingbelajar.
5)    Dalam pengajaran perorangan guru sangat perlu mengenal murid secara pribadi, hingga kondisi belajar dapat diatur dengan tepat
6)    Kegiatan  dalam  pengajaran perorangan  dapat  berupa bekerja bebas dengan bahan yang telah siap, dapat belajar sendiri dengan jadwal faarian yang disiapkan sendiri pula dan dapat pula bekerja dalam kelompok kecil. Dengan demikian   dalam  situasi   pengajaran  perorangan,   guru mungkin bekerja dengan situasi pengajaran perorangan, guru mungkin bekerja dengan satu orang murid, atau mengunjungi setiap murid dengan berbagai kegiatan bila muncul kebutuhan untukitu.
2.7.5 Komponen Keterampilan Mengajar Kelompok Kecil dan Perorangan
Bila diteliti lebih jauh, pengajaran kelompok kecil dan perorangan, masing-masing memerlukan keterampilan yang berhubungan dengan penanganan orang dan penanganan tugas, Ada empat komponen keterampilan yang harus dimiliki olch guru untuk pengajaran kelompok kecil dan perorangan. Komponen itu adalah sebagai berikut.
1)    Keterampilan Mengadakan Pendekatan Secara Pribadi
2)    Keterampilan Mengorganisasikan
3)    Keterampilanrnembimbing danmemudahkanbelajar
4)    Keterampilan merencanakan dan melaksanakan kegiatan belajar mengajar

2.8 Keterampilan Mengadakan Variasi
Setelah membaca bagian ini, minimal Anda akan dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut.
1.    Apa pengertian Mengadakan Variasi?
2.    Apa tujuan mengadakan variasi?
3.    Apa prinsip penggunaan keterampilan mengadakan variasi di kelas?
4.    Apa komponen keterampilan mengadakan variasi?
2.8.1 Pengertian
Kebosanan merupakan masalah yang selalu terjadi di mana mana dan orang selalu berusaha menghilangkannya, atau setidak-tidaknya mencoba menguranginya. Kebosanan biasanya terjadi bila seorang selalu melihat, merasai atau mengalami peristiwu yang sama secara berulang terus-menerus. Kita akan merasa bosan bila kita tahu akan bertemu dengan yang "itu-itujuga", dan tidak ada sesuatu yang baru yang diharapkan. Dari ungkapan di ata.s jelas bahwa umumnya orang selalu ingin "sesuatu yang baru," yang berbeda dari yang telah dialaminya. Kecenderungan kila adalah adanya suatu perubahan atau perbedaan dari yang telah ada, kita menginginkan adanya variasi dalam kehidupan. Hidup menjadi lebih menarik, dan kita lebih dapat menikmati kehidupan bila hidup dijalani dengan penuh variasi.

2.8.2    Tujuan Mengadakan Variasi
Keterampilan mengadakan variasi dalam mengajar berhubungan dengan perubahan atau variasi yang dilakukan guru dalam sajiannya dengan gaya guru mengajar, macam media dan bahan pengajaran yang digunakan, dan pola interaksi dalam kelas.
Kemanfaatan keterampilan mengadakan variasi dalam mengajar terutama untuk memusatkan perhatian dan pemberian inotivasi dengan tujuan sebagai berikut.
1)    Untuk menimbulkan dan meningkatkan perhatian murid kepada aspek belaj ar-mengaj ar yang relevan.
2)    Untuk memberikan kesempatan berkembangnya bakat "ingin mengetahui dan menyelidiki" dari murid tentang hal-hal yang baru.
3)    Untuk memupuk tingkah laku yang positif terhadap guru dan sekolah dengan berbagai cara mengajar yang lebih hidup dan lingkungan belaj ar yang lebih baik.
4)    Untuk memberi kesempatan kepada murid mendapatkan cara menerima pelajaran yang disenanginya.
5)    Untuk lebih meningkatkan kadar proses belajar mengajar yang   aktif   dan     melihat   murid   dengan   berbagai pengalaman yang menarik dan terarah pada berbagai tingkat kognitif.
2.8.3 Prinsip Penggunaan Keterampilan Mengadakan Variasi
Ada tiga prinsip yang berhubungan dengan penggunaan keterampilan mengadakan variasi. Prinsip itu adalah sebagai berikut.
1)    Variasi hendaknya digunakan dengan suatu maksud tertentu, relevan dengan tujuan yang hendak dicapai, cocok dengan kemampuan hak dan hakekat pendidikan. Penggunaan variasi yang wajar dan beragam sangat dianjurkan, dan sebaliknya pemakaian yang berlebihan akan menimbulkan kebingungan, malahan dapat mengganggu proses beiajar mengajar.
2)    Variasi haras digunakan secara lancar dan berkesinai bungan, sehingga tidak akan merasak perhatian mur dan tidak mengganggupelajaran.
3)    Sejalan   dengan  prinsip-prinsip   di   atas,   komponer komponen  variasi  tertentu  memerlukan  susunan  da perencanaan   yang   baik,   artinya   secara   eksplisi dicantumkan dalam rencana pelajaran..
2.8.4    Komponen Keterampilan Mengadakan Variasi
Pada bagian terdahulu telah dikemukakan bahwa komponen keterampilan mengadakan variasi ada tiga. Berturut-turut, komponen itu akan dibicarakanberikut ini,
1)    Variasi dalam GayaMengajar
2)    Variasi dalam penggunaan media dan bahan pengajaran
3)    Variasi Polalnteraksi dan Kegiatan Murid