Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Selasa, 18 Juni 2013

Bekal Menjadi Guru Profesional

Bekal Menjadi Guru Prefesional
BAGIAN PERTAMA
Penulis


1) Pendidikan Guru Berbasis Kompetensi (PBGK) Setelah membaca bagian ini, minimal Anda akan dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut.

  1. Apa yang dimaksud dengan kompetensi?
  2. Kompetensi apa saja yang harus dimiliki oleh guru?
  3. 3Apa yang dikemukakan oleh Konsorsium Ilmu Pendidikan dalam hubungan dengan pendidikan guru berbasis kompetensi?
  4. Apa hubungan PPL dengan pendidikan guru berbasis kompetensi
1.1    Pendahuluan
        Konsep kompetensi pernah diteliti oleh White pada tahun 1959 (periksa Nasution, 2003:182). Di dalam hasil penelitian itu dikemukakan bahwa motivasi kompetensi mempunyai dasar biologis. ini berarti bahwa kompetensi terdapat pula pada binatang, antara lain kemampuan menyelidiki, beraktivitas dan memanipulasi. Lebih lanjut White mengatakan bahwa kegiatan anak tidak dapat dijelaskan dengan dorongan untuk memuaskan kebutuhan makan dan minum atau kebutuhan biologis saja. Anak-anak metnbutuhkan interaksi dengan lingkungan. Melalui interaksi inilah anak-anak akan memperoleh kemampuan atau kompetensi.
         Hasil penelitian White menginformasikan kepada kita bahwa lingkungan atau kondisi tempat anak-anak berada dan dapat berinteraksi akan membentuk kompetensi mereka. lini mengisyaratkan kepada kita bahwa kondisi belajar yang kondusif akan sangat mendukung pencapaian kompetensi.
Pendidikan tinggi mendefinisikan kompetensi sebagai seperangkat tindakan cerdas, penuh tanggung jawab yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas-tugas di bidang pekerjaan tertentu. Jika definisi ini dijadikan acuari, maka akan dikenal kompetensi untuk bidang keguruan, tenaga medis, misalnya. Seseorang dianggap berkompeten dalam bidang tertentu bila ia mampu menunjukkan tindakan cerdas dengan penuh tanggung jawab.
          Kompetensi ini disiapkan melalui sebuah kurikulum yang maampu membawa pembelajarnya mencapai hasil belajar itu. Menurut Depdiknas (2002), pembelajaran berbasis kompetensi mengacu pada kurikulum yang pengembangannya merupakan suatu proses yang dinamis dengan berdarakan pada prinsip-prinsip sebagai berikut.
(1)    Keseimbangan etika, logika, estetika, dan kinestika
(2)    Kesamaan Memperoleh Kesempatan
(3)    Memperkuat Identitas Nasional
(4)    Menghadapi Abad Pengetahuan
(5)    Menyongsong Tantangan Teknologi Informasi dan Komunikasi
(6)    Mengembangkan Keterampilan Hidup
(7)    Mengintegrasikan Unsur-unsur Penting ke Dalam Kurikuler
(8)    PendidikanAlternatif
(9)    BerpusatpadaAnak Sebagai Pembangun Pengetahuan
(10)    Pendidikan Multikultur dan Multibahasa
(11)    Penilaian Berkelanjutan dan Komprehensif
(12)    Pendidikan Sepanjang Hayat

1.2  Program Pengalaman Lapangan dan Pendidikaii Guru Berbasis Kompetensi

PPL adalah salah satu mata kulish di LPTK yang dapat disamakan dengan kuliah praktik di fakultas lain. Kegiatan ini dilakukan untuk mengaplikasikan semua pengetahuan yang diperoleh mahasiswa selama perkuliahan agar mereka siap menghadapi pekerjaan yang menjadi profesinya sesudah menyelesaikan masa studi. Siap menghadapi pekerjaan bermakna bahwa lulusan LPTK siap bekerja, siap melaksanakan semua kegiatan yang harus dilakukan oleh seorang yang berprofesi sebagaiguru, bukan siap latih. Ini berarti pula tidak ada istilah masa percobaan bekerja, dalam hal ini percobaan mengajar, bagi seorang lulusan LPTK. Karena selama di bangku kuliah mereka sudah berlatih mengajar, melalui kegiatan PPL.
PPL adalah ciri khas pendidikan di LPTK yang harus dijalani oleh mahasiswanya sebagai calon guru mereka:
(a)    memperoleh pengalamannyata dalam bidang keguruan,
(b)    dapat menampilkan berbagai metode dan teknik selama di bangku kuliah,
(c)    dapat mempergunakan media mengaj ar,
(d)    dapat     menerapkan     proses   interaksi   sosial  profesi keguruan,
(e)    dapat menuangkan pengetahuan,performance objectives,
(f)    dapat menghadapi dan menyelesaikan kasus yang terjadi dalam proses belajar mengajar, dan
(g)    dapat bertindak danbertutur sebagai seorang guru.
 
Oleh karena itu, agar lulusan LPTK ini benar-benar siap bekerja, pelaksanaan PPL harus ditingkatkan kualitasnya. Upaya peningkatan kualitas itu dapat ditempuh antara lain dengan mengembalikan perhatian personil yang terlibat di dalam kegiatan ini kepada PGBK.
Di dalam Depdikbud (1986:2) dikemukakan bahwa PGBK mempunyai ciri sebagai berikut.
  1. Pendidikan  berangkat   dari   dan  bermuara  pada perangkat kompetensidasarguru.
  2. Pada  saat      seorang      calon  guru     menamatkan pendidikannya, ia sudah harus mengusai keseluruhan kemampuan  keguruan  yang   dipersyaratkan  untuk semua lulusan.
  3. Semua program di lembaga pendidikan guru yang dipecah-pecah menjadi kegiatan yang lebih kecil harus secara eksplisit menunjang pembentukan kemampuan keguruan tertentu.
  4. Untuk   melakukan  penyempurnaan   pelaksanaan pendidikan      yang      berkesinambungan      sangat diutamakan sistem informasi balikan.
          Sebagai realisasi pernyataan di atas, kegiatan PPL haras berlandaskan pada kompetensi dasar guru. Di dalam Depdikbud (1986:3—11) dinyatakan bahwa sepuluh kompetensi yang harus dikuasai oleh seorang guru. Kompetensi dimaksud adalah sebagai beerikut.
(1) kemampuan mengembangkan kepribadian,
(2) menguasai landasaankependidikan,
(3) menguasaubahanpembelajaran,
(4) menyusun program pengajaran,
(5) melaksanakan program pembelajaran,
(6)  menilai hasil dan proses belajar-mengajar yang telah dilaksanakan
(7)   menyelenggarakan program bimbingan
(8)  menyelenggarakan administrasi sekolah
(9)  berinteraksi    dengan    teman    sejawat    dan masyarakat, dan
(10) menyelenggarakan penelitian sederhana untuk keperluan pengajaran 

Konsorsium Ilmu Pendidikan antara lain mengajukan perangkat kompetensi yang merupakan sasaran pembentukan lulusan pendidikan prajabatan guru. Perangkat kompetensi tersebut terdiri dari 3 rumpun, yaitu:
  • kesadaran dan kemampuan mengembangkan diri sebagai individu warga negara berpendidikan tinggi dan sebagai pekerj a professional,
  • penguasaan bidang ilmu sumber bahan ajaran, dan
  • kemampuan menyusun dan menyelenggarakan program pengajaran      dan  tugas-tugas   keguruan  kependidikan lainnya.
      Penguasaan    ketiga    rumpun yang diprogramkan sebagai sasaran  pembentukan  pendidikan  prajabatan  dilakukan   secara bertahap melalui berbagai mata kuliah, yang kemudian semua bermuara pada kegiatan pelatihan PPL.
 
        LPTK, dalam upaya meningkatkan mutu lulusannya, harus menyelenggarakan pendidikan di lembaga itu dengan memperhatikan ha saran Langgulung (1989:245) berikut ini.
  • Sasaran pembelajaran mengarah kepada pengembangan kemahiran berpikir kreatif.
  • Pengembangan kemahiran berpikir kreatif dilakukan secara terpimpin dan diupayakan melalui penerapan pengetahuan yang kreatif.
  • Pengembangan metode dan alat bantu mendorong tumbuhnya kreativitas dan belajar secara kreatif.
  • Penilaian dirancang untuk menilai kreativitas.
  • Pengembangan interaksi guru dan murid dan prinsip untuk menilai pemikiran kreatif.
1.3 Kompetansi Dasar Guru sebagai Acuan Peningkatan Kulitas PPL

         Yang telah dikemukakan pada butir di atas bukanlah sesuatu yang baru. Mantan guru SPG dan SGO serta pengajar pada LPTK, terutama yang pernah mengikuti penataran P3G pasti sudah pernah mengetahui informasi tentang kompetensi dasar itu. Kompetensi guru itu tidak jauh 'berbeda dengan ketiga rumpun hasil rumusan Konsorsium Ilmu Pendidikan. Keduanya adalah instrumen yang dapat digunakan sebagai acuan untuk meningkatkan kualitas PPL.


BAGIAN KEDUA

2. Keterampilan Dasar Mengajar

       Rooijakkers (1993:1) mengartikan mengajar sebagai suatu kegiatan   menyampaikan   atau   menularkan   pengetahuan   dan pandangan. Dalam hal ini baik murid maupun guru harus mengerti bahan yang akan dibicarakan.
           Pengertian di atas tampaknya sangat sederhana. Akan tetapi, sebenarnya pengertian itu tidak cukup diartikan seperti itu saja. Di dalam penyampaian dan penularan pengetahuan serta pandangan itu terdapat sebuah proses. Di dalam proses itu terjadi interaksi yang melibatkan banyak komponen yang turut menyukseskan Itercapainya tujuan yang akan dicapai baik oleh murid maupun oleh guru. Joni dkk, (1982) menyatakan bahwa mengajar bukan hanya proses penyampaian atau penerusan pengetahuan saja. Mengajar adalah perbuatan yang kompleks, yaitu penggunaan secara terpadu sejumlah  keterampilan  untuk menyampaikan pesan.  Pemaduan
        keterampilan itu dilandasi oleh seperangkat teori dan diarahkan oleh suatu wawasan,  sedangkan aplikasinya terjadi secara unik, dalam arti secara simultan dipengaruhi oleh semua komponen belajar mengajar. Komponen   itu adalah tujuan yang ingin dicapai, pesan yang akan disampaikan, subyek didik, fasilitas dan lingkungan belajar, dan tidak kalah pentingnya, guru. Guru yang memiliki keterampilan, kebiasaan, serta wawasan tentang diri dan misinya
sebagai pendidik.

2.1.1 Pengertian

         Abimanyu dan Joni (1982) mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan   membuka   pelajaran adalah kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk menciptakan suasana siap mental dan menimbulkan perhatian murid agar terpusat pada hal-hal yang akan dipelajari.
           Kegiatan membuka pelajaran tidak harus dilakukan pada awal jam pelajaran,    tetapi   juga    pada awal setiap penggal kegiatan inti | pelajaran yang diberikan selamajam pelajaran itu.
Untuk menciptakan suasana siap mental murid terhadap materi yang akan dipelajari, guru dapat melakukan usaha memberikan acuan dan membuat kaitan antara materi pelajaran yang telah dikuasai murid dengan bahanbaru yang akan dipelajari.
        Murid yang siap mental untuk belajar semacam itu adalah mereka yang telah mengetahui tujuan pelajaran, pengetahuan masalah-masalah pokok yang harus diperhatikan, mengetahui langkah-langkah kegiatan belajar yang akan dilakukan, dan mengetahui batas tugas yang harus dikerjakan untuk menguasai pelajaran tersebut. Yang dimaksud dengan menutup pelajaran adalah kegiatan yang dilakukan guru untuk mengakhiri kegiatan inti pelajaran. Usaha menutup pelajaran dimaksudkan untuk memberikan gambaran menyeluruh tentang yang telah dipelajari murid, mengetahui tingkat pencapaian murid dan tingkat keberhasilan guru dalam proses belajar mengajar(baca Abimanyu dan Joni 1982)

2.1.2 Tujuan Membuka dan Menutup Pelajaran
         Membuka dan menutup pelajaran yang dilakukan secara profesional akan memberikan pengaruh positif terhadap kegiatan pemebelajaran (Mulyasa, 2005:83). Mengapa kita harus melakukan kegiatan membuka dan menutup pelajaran dalam kegiatan belajar mengajar? Dari beberapa sumber yang dikompilasi oleh (Joni dan Abimanyu 1982) membuka dan menutup pelajaran dilakukan oleh guru untuk:
  1. menimbulkan   perhatian   dan   motivasi   murid   untuk menghadapitugas-tugas yang akan dikerjakan,
  2. murid mengetahui batas-batas yang akan dikerjakan,.
  3. murid mempunyai gambaran yang jelas tentang pendekatan yang   mungkin diambil dalam mempelajari bagian-bagian dari suatu mata pelajaran,
  4. murid mengetahui hubungan antara pengalaman yang telah dikuasai dengan hal-hal baru yang akan dipelajari atau yang masih asingbaginya,
  5. murid    dapat    menggabungkan fakta, keterampilan atau konsep yang tercakup dalam suatuperistiwa, dan
  6. murid   dapat   mengetahui   tingkat  keberhasilan  dalam mempelajari pelajaran itu.

2.1.3   Prinsip-Prinsip Membuka dan Menutup Pelajaran
        Abimanyu dan Joni (1982) mengemukanakn prinsip yang mendasari penggunaan keterampilan membuka dan menutup pelajaran adalah sebagai berikut.
1)  Bermakna
         Untuk menarik perhatian atau memotivasi murid, gum hendaklah memilih cara yang relevan dengan isi tujuan pelajaran. Cara, menyajikan cerita atau lelucon yang dicari-cari, yang hanya sekedar hendak menimbulkan tertawa murid, harus dihindarkan.
2) Berurutan dan Berkesinambungan
       Aktivitas yang ditempuh oleh guru dalam memperkenalkan dan merangkum kembali pokok-pokok penting pelajaran hendaknya menjadi bagian dari kesatuan yang utuh. Agar prinsip berurutan dan berkesinambungan ini terwujud, perlu diusahakan suatu susunan yang tepat, berhubungan dengan minat murid, ada kaitan yang jelas antara satu bagian dengan bagian yang lain, atau ada kaitannya dengan pengalaman dan pengetahuan yang telah dimiliki murid.

2.1.4 Komponen Keterampilan Membuka dan Menutup Pelajaran
         Keterampilan membuka dan menutup pelajaran masing-masing memiliki komponen. Dalam hal ini, Abimanyu dan Joni (1982) mengeniukakan bahwa komponen membuka dan menutup pelajaran adalab sebagai berikut.
1) Komponen Membuka Pelaj aran
          Pada bagian terdahulu telah dikemukan bahwa membuka pelajaran adalah kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk menciptakan suasana siap mental dan menimbulkan perhatian murid agar terpusat pada hal-hal yang akan dipelajari. Pada awal jam pelajaran atau pada awal penggal kegiatan dalam inti pelajaran, guru melakukan kegiatan membuka pelajaran dengan memperhatikan komponen berikut.
2) Komponen Menutup Pelajaran
          Menjelang akhir suatu jam pelajaran atau pada akhir setiap penggal kegiatan, guru harus melakukan kegiatan menutup pelajaran agar murid memperoleh gambaran yang utuh tentang pokok-pokok materi pelajaran yang dipelajari. Cara-cara  yang  dapat  dilakukan  guru  dalam  menutup pelajaran adalah sebagai berikut.
2.2    Keterampilan Menjelaskan
           Setelah membaca bagian ini, minimal Anda akan dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut.
1)    Apa pengertian menjelaskan?
2)    Apa tujuan memberikan penjelasan?
3)    Apa perlunya keterampilan menjelaskan?
4)    Bagaimana penggunaan keterampilan menjelaskan di kelas?
5)    Apa saja komponen keterampilan menjelaskan?

2.2.1   Pengertian
       Di dalam kehidupan sehari-hari kita seringkali mendengar tuturan atau kalimat "Saya menjelaskan kepada kawan-kawan tentang tamasya ke pulau Bali. Bagaimana keindahan alamnya, keramah-tamahan penduduknya, adat-istiadat dan kebudayaan-nya, serta tari-tariannya yang terkenal. Pada suatu kesempatan orang itu berkata lagi, "Saya menjelaskan kepada murid soya, mengapa pesawat terbang yang beratnya berton-ton itu dapat terbang diudara dan tidakjatuh ke bawah. "
          Istilah menjelaskan pada alinea di atas digunakan pada dua keadaan yang agak berbeda. Pada keadaan yang pertama yang dimaksudkan dengan menjelaskan adalah membuat suatu gambaran tentang suatu keadaan atau peristiwa, sementara pada keadaan yang kedua digunakan untuk menghubungkan sebab-sebab peristiwa alam yang jika diberikan pada saat lain dengan kondisi yangsama akanberlaku juga untuk benda lain.

2.2.2 Tujuan Memberikan Penjelasan
            Kosasidan Joni (1982) mengemukakan bahwa keterampilan menjelaskan dapat dipakai untuk semua mata pelajaran dan di segala jenjang pendidikan. Akan tetapi, penyampaian dan kualitasnya berbeda. Ada beberapa tujuan yang ingin dicapai guru dalam memberikan penjelasan di dalam kelas. Tujuan dimaksud adalah sebagai berikut.
  1. Membimbing murid memahami dengan jelas jawaban pertanyaan mengapa  yang mereka ajukan atau yang dikemukan guru.
  2. Menolong murid mendapatkan dan memahami hukum, dalil, dan prinsip umum secara objektif dan bernalar.
  3. Melibatkan murid untuk berpikir dengan memecahkan masalah atau pertanyaan.
  4. Mendapatkan   balikan   dari   murid   mengenai   tingkat pemahamannya dan untuk mengatasi kesalahpengertian mereka.
  5. Menolong murid menghayati dan mendapatkan proses penalaran  dan penggunaan bukti  dalam  penyelesaian keadaan yang meragukan.

2.2.3   Perlunya Keterampilan Menjelaskan
         Menjelaskan merupakan suatu aspek penting yang harus dimiliki oleh guru, mengingat sebagian besar pembelajaran menuntut guru untuk memberikan penjelasan ( Periksa Kosasi dan Joni, 1982, dan Mulyasa 2005:80). Lebih lanjut Kosasi dan Joni (1982) mengatakan Ada beberapa alasan yang dapat dikemukakan mengenai perlunya keterampilan menjelaskan dikuasai oleh guru dengan baik.
  1. Guru cenderung mendominasi kelas dan sebagian besar kegiatan guru adalah memberikan informasi atau menje¬laskan. Oleh karena itu, amatlah penting meningkatkan efektivitas pembicaraan itu agar benar-benar merupakan penjeiasan yang bermakna bagi murid.
  2. Penjelasan    yang diberikan oleh guru kadang-kadang "tidak jelas" bagi murid, tetapi hanya jelas bagi din guru sendiri.    Hal   ini sering tercermin dalam ucapan guru. Sudahjelas, bukan?
  3. Tidak semua murid dapat menggali sendiri pengetahuan dari buku atau sumber lainnya. Untuk menanggulangi hal itu, guru membantu mereka dengan menjelaskan hal-hal tertenru.
  4. Kurangnya      sumber      yang   tersedia   yang   dapat ditnanfaatkan murid dalam proses belajar. Guru perlu membantu   murid    dengan cara memberikan informasi yang cocok dengan materiyang diperlukan.

2.2.4    Penggunaan Keterampilan Menjelaskan di Kelas
Menjelaskan merupakan keterampilan dasar dalam menyajikan bahan pengajaran yang sering digunakan oleh guru. Tidak terhitung banyaknya pertanyaan yang diajukan di kelas yang Inwabannya memerlukan penjelasan. Dalam kegiatan menjelaskan ada tiga hal yang yang saling berkaitan yaitu, yang menjelaskan (guru), yang mendengar penjelasan (murid), dan hal yang akan dijelaskan (masalah dan pemecahannya). kepada hubungan dan kaitan yang dibuat secara logis antara fakta (bukti) dan hukum umum (generalisasi), dan juga pada penghayatan guru bahwa hal itu secara psikologis dapat diterima oleh sistem panca indera murid.
Beberapa prinsip yang harus diperhatikan di dalam memberikan penjelasan adalah sebagai berikut.
1)    Penjelasan dapat diberikan di awal, di tengah, atau di akhir jam pelajaran, tergantung pada keperluannya. Penjelasan dapat diselingi dengan tanya jawab.
2)    Penjelasan harus relevan dengan tujuan pembelajaran.
3)    Guru dapat   memberikan penjelasan bila ada pertanyaan murid ataupun direncanakan guru sebelumnya.
4)    Penjelasan harus bermakna bagi murid
5)    Penjelasan  harus   sesuai   dengan  latar   belakang   dan kemampuan murid.

2.2.5       Komponen Keterampilan Menjelaskan
Secara garis besar, komponen keterampilan menjelaskan terbagi menjadi dua, yaitu menganalisis dan merencanakan serta menyajikan.
1) Merencanakan Penjelasan
Penjelasan yang diberikan guru perlu direncanakan dengan baik. Dalam merencanakan ini ada dua hal yang harus diperhatikan, yaitu isi pesan yang akan
disampaikan, dan penerima pesaan itu.
2) Menyajikan Penjelasan
Sebuah perencanaan yang baik belum menjamin keberhasilan penyajiannya kepada pendengar. Perencanaan yang baik harus disertai penyajian yang baik pula. Penyajian dapat ditingkatkan hasilnya dengan memperhatikan komponen berikut.
(1)    Kejelasan
(2)     penggunaan contoh dan ilustrasi
(3)    Pemberian tekanan
(4)    Balikan
2.3   Keterampilan Mengelola Kelas
Setelah membaca bagian mi, minimal Anda akan dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut.
1.    Apa pengertian mengelola kelas?
2.    Apa tujuan pengelolaan kelas bagi guru?
3.    Apa tujuan pengelolaan kelas bagi murid?
4.    Apa saja prinsip-prinsip mengelola kelas?
Apa saja komponen keterampilan mengelola kelas? Hal-hal apa saja yang harus dm'mdari da\am pengelolaan kelas?

2.3.1    Pengertian
Sekolah adalah tempat belajar bagi murid, dan tugas guru yang sebagian besar terjadi dalam kelas adalah membelajarkan murid dengan menyediakan kondisi belajar yang optimal. Semiawan (1985:63) mengemukakan bahwa tugas utama guru adalah menciptakan suasana di dalam kelas agar terjadi interaksi belajar-mengajar yang dapat memotivasi murid untuk belajar dengan baik. Agar kegiatan belajar-mengajar berjalan optimal seorang guru harus memiliki kemampuan memanajemeni kelas (periksa Suroso, 2002:93). Tugas di dalam kelas yang berhubungan dengan murid ini berkaitan dengan minat, kehendak, percakapan maupun kegiatan-kegiatan mereka.

1.2 Tujuan Mengelola Murid
Dari berbagai sumber yang dikompilasi oleh Bolla dan Joni (1982) diperoleh informasi bahwa keterampilan mengelola kelas
mepunyai   tujuan, baik bagi murid maupun bagi guru. Tujuan-tujuan itu adalah sebagai berikut.
1)  TujuanuntukMurid
(1)    mendorong murid mengembangkan tanggung jawab individual terhadap tingakah lakunya, serta sadar untuk mengendalikan dirinya.
(2)    membantu   murid   mengerti akan arah tingkah laku yang sesuai dengan tata tertib kelas, dan melihat atau merasakan teguran guru sebagai suatiu peringatan bukan kemarahan, dan
(3)    menimbulkan rasa berkewajiban melibatkan diri dalam tugas serta bertingkah laku yang wajar sesuai dengan aktivitas kelas.
2) Tujuan untuk Murid
(1)    mengembangkan pengertian dan keterampilan dalam memelihara  kelancararan  penyajian  dan  langkah langkah pelajaran secaratepatdanbaik,
(2)    memiliki kesadaran terhadap kedudukan murid dan mengembangkan kompetensinya di dalam membe rikan pengarahan yang j elas kepada murid, dan
(3)    memberi respon secara efektif terhadap tingkah laku murid yang menimbulkan gangguan kecil atau ringan serta   memahami   dan   menguasai   seperangkat kemungkinan strategi yang dapat digunakan dalam hubungan dengan masalah tingkah laku murid   yang berlebih-lebihan atau melawan di kelas.
2.3.3 Prinsip-prinsip Mengelola Kelas
Ada enam prinsip dasar yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan komponen keterampilan mengelola kelas (Bolla dan Joni, 1982). Prinsip-prinsip itu adalah sebagai berikut.
1)   Kehangatan dan Keantusiasan
2)   Tantangan
3)   Bervariasi
4) Keluwesan
5) Penekanan kepada Hal-hal yang Positif
6)PenanamanDisiplinDiri

2.3.4  Komponen Keterampilan Mengelola kelas
Keterampilan mengelola kelas terbagi menjadi dua jenis keterampilan utama. Keterampilan yang dimaksud adalah sebagai berikut.
1)    Keterampilan yang Berhubungan dengan Penciptaan dan PemeliharaanKondisi Belajar yang Optimal
Keterampilan ini berkaitan dengan kemampuan guru didalam mengambil inisiatif dan mengendalikan pelajaran serta kegiatan yang berhubungan dengan hal tersebut.
(1)    Menunjukkan sikap tanggap
(2)    Membagi Perhatian
(3)    Memusatkan Perhatian Kelompok
(4)    Memberikan Petunjuk-petunjuk yang Jelas
(5)    Menegur
(6)    Memberi Penguatan
2) Keterampilan yang Berhubungan dengan Pengembalian Kondisi Belajar yang Optimal
Keterampilan ini berkaitan dengan respon guru terhadap gangguan murid yang berkelanjutan dengan maksud agar guru dapat mengadakan tindakan remedial untuk mengembalikan kondisi belajar yang optimal. Dalam banyak kelas guru sering menghadapi anak-anak yang terus saja mengganggu dan tetap tidak tenang. Walaupun guru telah menggunakan tingkah laku yang efektif dan respon yang sesuai telah diberikan masih saja ada murid atau kelompok murid yang menimbulkan gangguan yang berulang-ulang.

2.3.5  Hal-ha! yang Harus Dihindari
Dalam     usaha mengelola kelas  secara efektif,     ada sejumlah kekeliruan yang harus dihindari guru. Bolla dan Joni (1982) mencatat ada beberapa kekeliruan. Kekeliruan itu adalah sebagai berikut.
1)  CampurTanganyangBerlebihan
2)   Kelenyapan
3)   Ketidaktepatan Memulai dan Mengakhiri Kegiatan
4)   Penyimpangan
5)   Bertele-tele
6)  Pengulangan Penjelasan Secara Tidak Perlu

2.4 Keterampilan Memberi Penguatan
Setelah membaca bagian ini, minimal Anda akan dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut.
1)    Apa pengertian memberikan penguatan?
2)    Apa tujuan memberikan penguatan?
3)    Apa saja prinsip penggunaan keterampilan?
4)    memberikan penguatan di kelas?
5)    Bagaimana cara menggunakan keterampilan memberikan penguatan di kelas?
6)    Apa saja komponen pemberian penguatan?
2.4.1 Pengertian
Dalam kehidupan sehari-hari, usaha kita sering mendapat penghargaan. Sesudah kita menolong seseorang, biasanya orang yang ditolong mengucapkan terimakasih.   Ucapan terima kasih ini    merupakan  satu    penghargaan  atas pertolongan tadi. Upah yang    diterima,    kenaikan    gaji, dan kenaikan pangkat adalah penghargaan    atas    pekerjaan seseorang. Pada urnumnya peng hargaan mempunyai pengaruh positif dalam kehidupan manusia, yaitu  mendorong   seseorang   memperbaiki   tingkah   laku   dan meningkatkan usahanya (Periksa juga Arends, 2001:81).



2.4.2 Tujuan Memberi Penguatan
Pemberian penguatan dan penerapannya secara bijaksana dan sitematis berdasarkan cara dan prinsip yang tepat, akan dapat mencapai beberapa tujuan yang merupakan kemungkinan kemanfaatan dari penggunaan penguatan di kelas. Pah dan Joni (1982) menyebutkan paling sedikit tujuan dan manfaat pemberian penguatan adalah untuk:
1)    meningkatkan perhatian murid.
2)    membangkitkan dan memeiihara motivasi murid.
3)    memudahkan murid belajar.
4)    mengontrol dan memodifikasi tingkah laku murid yang kurang positif serta mendorong munculnya tingkah laku yang produktif.

2.4.3  Prinsip Penggunaan Penguatan
Penggunaan penguatan secara aktif harus memperhatikan tiga prinsip sebagai berikut.
1)    Kehangatan dan keantusiasan
2)    Kebermaknaan
3)    Menghindari penggunaanrespon yang negatif

2.4.4   Cara-caraMemberikan Penguatae diKelas
1)    Penguatan kepada pribaditertentu
2)    Penguatan kepada kelompok murid
3)    Pemberianpenguatan dengan segera
4)    Variasi dalam penggunaan

2.4.5   Komponen Pemberian Penguatan
Keterampilan memberikan penguatan terdiri dari beberapa komponen yang perlu dipahami dan dikuasai penggunaannya  oleh guru agar ia dapat memberikan penguatan secara bijaksana   dan sistematis. Komponen itu adalah sebagai berikut.
1) Penguatan verbal
2) Penguatan nonverbal
3) Penguatan dengan sentuhan
4) Penguatan dengan kegiatan yang menyenangkan
5) Penguatan berupa simbol atau benda
6) Penguatan takpenuh

2.5    Keterampilan Bertanya Dasar dan Lanjut
Setelah membaca bagian ini,  minimal Anda akan dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut.
1.    Apa pengertian bertanya dasar dan lanjut?
2.    Apa tujuan bertanya dasar dan lanjut?
3.    Apa hal-hal yang perlu diperhatikan dalam bertanya dasar dan lanjut?
4.    Apa saja komponen keterampilanbertanya dasar?
5.    Apa saja komponen keterampilan bertanya lanjut?
2.5.1 Pengertian
Bertanya adalah kegiatan yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari di kantor, di rumah, di pasar, di perjalanan, di sekolah dan dimanasaja selaluterjadi kegiatan tanya jawab ini.
Pertanyaan di dalam kehidupan sehari-hari biasanya bertujuan memperoleh informasi mengenai hal yang behim diketahui penanya. Umpanyanya seorang menanyakan harga sebuah kemeja, Pertanyaan ini diajukan kerena ia belum mengetahui harganya dan ingin mengetahuinya. Demikian pula bila seorang dalam perjalanannya menanyakan jalan jurusan ke Bogor. Tujuan pertanyaannya ialah untuk memperoleh informasi yang tempat mengenai jalan ke Bogor yang belum diketahuinya.

2.5.2 Tujuan Penggunaan Keterampilan Bertenya
Menurut penelitian, kemampuan bertanya, adalah salah satu darii lima perilaku pendukung guru yang efektitif (Borich, 1996 dalamMudjiman2006:l 13)
Seorang guru yang mengajukan pertanyaan dengan menggunakan keterampilan bertanya secara tepat dapat mengharapkan tercapainya beberapa tujuan yang merupakan kemungkinan kemanfaatan penggunaan keterampilan bertanyi dalamkelas. Tujuan yang akan dicapai adalah sebagai berikut.
1)    Membangkitkan minat      dan rasa  ingin     tahu  murid terhadap suatupokok bahasan,
2)    Memusatkan  perhatian   rnurid  terhadap   suatu  pokok bahasan atau konsep,
3)    Mendiagnosis kesulitan khusus yang menghambat mum belajar,
4)    Mengembangkan cara belaj ar murid aktif,
5)    Memberikan kesempatan kepada murid untuk mengasi-milasikan informasi,
6)    Mendorong murid mengernukakan pandangannya dalani diskusi, serta
7)    Menguj i dan mengukur hasi 1 belaj ar murid.

2.5.3   Hal-hal yang Perlu Diperhatikan
Dalam usaha pencapaian tujuan tersebut, ada beberapa yang perlu diperhatikan guru waktu menggunakan keterampilan bertanya dalam proses belajar mengajar, baik keterampilan bertanya dasar maupun bertanya lanjut.
1)  Kehangatan dan keantusiasan
2) Kebiasaan yang perlu dihindari
3) Menjawab pertanyaan sendiri
4) Pertanyaan yangmemancing jawaban serentak
5) Pertanyaan Ganda
6) Menentukan murid menjawab

2.5.4 Komponen Keterampilan Bertanya Dasar
Keterampilan bertanya dasar mempunyai beberapa komponen. pemahakan guru tentang komponen-komponen ini serta penguasaan penggunaannya merapakan faktor penting dalam usaha pencapaian tujuan penggunaan pertanyaan dalam kelas. Komponen-komponen itu adalah sebagai berikut.
1)  Penggunaan Pertanyaan Secara Jelas dan Singkat
2) Pemberian acuan
3)   Pemindahan giliran
4)  Penyebaran
5)  Pemberian Waktu Berpikir
6)  Pemberiantuntunan

2.5.5 Komponen Keterampilan Bertanya Lanjut
Keterampilan  bertanya  lanjut  merupakan  kelanjutan  dari keterampilan bertanya dasar. Keterampilan bertanya lanjut yang dikuasai guru meliputi komponen sebagai berikut.
1)  Pengubahan  tunrutan  tingkat  kognitif dalam  menjawab pertanyaan
2)   Pengaturan urutan pertanyaan
3)   Penggunaan pertanyaan pelacak

2.6 Keterampilan Membimbing Diskusi Kelompok Kecil
Setelah membaca bagian ini, minimal Anda akan dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut.
1.    Apa pengertian membimbing diskusi kelompok kecii?
2.    Apa tujuan membimbing diskusi kelompok kecil?
3.    Hal-hal apa yang perlu diperhatikan dalam membimbing diskusi kelompok kecil?
4.    Apa saja komponen keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil?
5.    Hal-hal apa saja yang hams  dihindari dalam membimbing diskusi kelompok kecil?

2.6.1 Pengertian
Diskusi merupakan suatu kegiatan yang biasa dilakukan dalam berbagai lapangan seperti dalam dunia politik, kegiatan sosial, perdagangan, dan kebudayaan. Dari makna kata diskusi dapat diketahui bahwa di dalamnya terlibat lebih dari satu orang. Dengan demikian diskusi selalu terjadi dalam kelompok, baik kelompok besar maupun kecil. Tetapi perlu diingat, tidak semua percakapan datam kelompok dapat disebut diskusi.

2.6.2 Tujuan Penggunaan Pembimbingan Diskusi
Roestiyah   dan   Suharto   (1985:6)   mengemukakan  bahwa proses belajarmelalui diskusi bertujuanagar:
Pertama, murid dapat menggunakan pengetahuan dan pengalamannya untuk memecahkan masalah, tanpa selalu bergantung pada pendapat orang lain. Murid dilatih berpikir dan memecahkan masalah sendiri. Meskipun ada perbedaan pandangan di antara peserta diskusi dan akan muncul jawaban yang berbedapula.
Kedua, murid mampu menyatakan pendapatnya secara lisan dan berlatih mengaplikasikan demokrasi.
Ketiga, murid belajar berpartisipasi suatu masalah di dalam memecahkan.

2.6.3    Hal-hal yang Perlu Diperhatikan
Agar pelaksanaan diskusi kelompok berjalan dengan lancar Roetiyah dan Suharto (1985:7) menyarankan agar guru berperan sebagai
1)  Pengatur lalu lintas pembic araan
2)  Benteng penangkis
3)  Penunjukjalan

2.6.4 Komponen Keterampilan MembimMng Diskusi Kelompok Kecil
Setelah menyelesaikan perencanaan dan persiapan dengan matang, dengan niat untuk memelihara iklim yang terbuka, guru akan memulai berdiskusi
1) MemusatkanPerhatian
2)  Memperjelas Masalah atau Urun Pendapat
3)  Menganalisis Pandangan Murid
4) Meningkatkan Urunan Pikiran murid
5) Menyebarkan Kesempatan Berpartisipasi
6)    Menutup Diskusi

2.6.5 Hal-hal yang Harus Dihindari
Ada beberapa hal yang haras diperhatikan oleh guru di dalam membimbing diskusi keiompok kecil. Guru harus menghindari hal-hal berikut.
1)    Melaksanakan diskusi dengan topik yang tidak sesuai dengan minat dan latar belakang pengetahuan murid.
2)    Mendominasi diskusi antara lain dengan pertanyaan yang terlampau   banyak   dan   menyediakan   jawaban   yang banyak juga.
3)    Membiarkan murid tertentu memonopoli diskusi.
4)    Membiarkan terjadinya penyimpangan dari pembicaraan yang tidak relevan.
5)    Tergesa-gesa meminta respon murid atau mengisi waktu dengan berbicara terus,  sehingga murid tidak sempat berpikir.
6)    Membiarkan murid yang enggan untukberpartisipasi.
7)    Tidak memperjelas atau mendukung urunan pikiran murid
8)    Gagal mengakhiri diskusi secara efektif.
2.7 Keterampilan Mengajar Kelompok Kecil dan Perorangan (MKKP)
Setelah membaca bagian ini, minimal Anda akan dapat rnenjawab pertanyaan-pertanyaan berikut.
1)    Apa pengertian mengajar kelompok kecil dan perorangan?
2)    Apa tujuan mengajar kelompok kecil dan perorangan?
3)    Hal-hal apa saja yang perlu diperhatikan dalam mengajar kelompok kecil dan perorangan
4)    Apa saja komponen keterampilan mengajar kelompok kecil dan perorangan
2.7.1 Pengertian
Keberhasilan pemelajaran adalah keberhasilan peserta didik dalam memperoleh kompetensi dan mencapai tujuan. Keberhasilaii ini tidak terlepas dari keberhasilan guru dalam membimbing merekabelajar baik dalam kelompok kecilmaupun perorangan.

2.7.2 Tujuan Mengajar Kelompok Kecil dan Perorangan
Pengajaran kelompok kecil dan perorangan bertujuan
1)    agar guru dapat memberikan perhatian terhadap setiapj murid,
2)    membina      hubungan  yang   lebih   akrab   antara  guru dan murid, maupun antara murid dan murid,
3)    murid dapat belajar dari temannya sendiri,
4)    memotivasi murid belajar lebih banyak karena harus mengajar temannya,
5)    agar     kreativitas  dan     sifat     kepemimpinan     murid berkembang
6)    kadar proses belajar aktif dalam kegiatan belajar mengajar meningkat

2.7.3 Penggunaan Keterampilan MKKP di Kelas
Memberikan perhatian yang wajar pada perbedaan individual murid dalam bentuk pengajaran kelompok kecil dan perorangan menuntut perabahan baik dalam pengelolaan kelas maupun dalam peran guru. Kalau selama ini guru hampir selalu menghadapi murid dalam kelas besar, kini harus disediakan kesempatan bagi murid untuk bekerja di dalam kelompok kecil, dan bila perlu secara perorangan. Berbagai variasi pengorganisasian dapat digunakan untuk maksud tertentu, yang tentu saja harus disesuaikan dengan tujuan yang ingin dicapai, kemampuan murid., kemampuan guru mengelola, serta fasilitas yang tersedia.

2.7.4 Hal-hal yang Perlu Diperhatikan
Agar dapat menggunakan kelompok kecil dan format perorangan secara efektif, yang perlu diperhatikan oleh guru adalah sebagai berikut.
1)    Guru  yang  sudah  biasa  dengan  pengajaran  klasikal, sebaiknya mulai dengan pengajaran kelompok, kemudian secara bertahap mengarah kepada pengajaran perorangan. Sedangkan calon guru sebaiknya mulai dengan pengajaran perorangan,  kemudian  secara bertahap  ke pengajaran kelompok kecil.
2)    2)   Tidak semua topik dapat dipelajari secara efektif dalam kelompok kecil maupun perorangan. Hal yang bersifat umum    seperti    pengarahan,    dan    informasi    umum, sebaiknya diberikan dalam bentuk kelas besar.
3)    Dalam pengajaran kelompok kecil, langkah pertama yang harus dikerjakan guru adalah mengorganisasikan murid, sumber,  materi,  ruang,  serta  waktu  yang  diperlukan. Langkah ini merupakan landasan bagi berlangsungnya kegiatan.
4)    Kegiatan pengajaran kelompok kecil yang efektif diakhiri dengan suatu kulminasi yang dapat berupa rangkuman, pemantapan,   dan laporan   yang memungkinkan   murid salingbelajar.
5)    Dalam pengajaran perorangan guru sangat perlu mengenal murid secara pribadi, hingga kondisi belajar dapat diatur dengan tepat
6)    Kegiatan  dalam  pengajaran perorangan  dapat  berupa bekerja bebas dengan bahan yang telah siap, dapat belajar sendiri dengan jadwal faarian yang disiapkan sendiri pula dan dapat pula bekerja dalam kelompok kecil. Dengan demikian   dalam  situasi   pengajaran  perorangan,   guru mungkin bekerja dengan situasi pengajaran perorangan, guru mungkin bekerja dengan satu orang murid, atau mengunjungi setiap murid dengan berbagai kegiatan bila muncul kebutuhan untukitu.
2.7.5 Komponen Keterampilan Mengajar Kelompok Kecil dan Perorangan
Bila diteliti lebih jauh, pengajaran kelompok kecil dan perorangan, masing-masing memerlukan keterampilan yang berhubungan dengan penanganan orang dan penanganan tugas, Ada empat komponen keterampilan yang harus dimiliki olch guru untuk pengajaran kelompok kecil dan perorangan. Komponen itu adalah sebagai berikut.
1)    Keterampilan Mengadakan Pendekatan Secara Pribadi
2)    Keterampilan Mengorganisasikan
3)    Keterampilanrnembimbing danmemudahkanbelajar
4)    Keterampilan merencanakan dan melaksanakan kegiatan belajar mengajar

2.8 Keterampilan Mengadakan Variasi
Setelah membaca bagian ini, minimal Anda akan dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut.
1.    Apa pengertian Mengadakan Variasi?
2.    Apa tujuan mengadakan variasi?
3.    Apa prinsip penggunaan keterampilan mengadakan variasi di kelas?
4.    Apa komponen keterampilan mengadakan variasi?
2.8.1 Pengertian
Kebosanan merupakan masalah yang selalu terjadi di mana mana dan orang selalu berusaha menghilangkannya, atau setidak-tidaknya mencoba menguranginya. Kebosanan biasanya terjadi bila seorang selalu melihat, merasai atau mengalami peristiwu yang sama secara berulang terus-menerus. Kita akan merasa bosan bila kita tahu akan bertemu dengan yang "itu-itujuga", dan tidak ada sesuatu yang baru yang diharapkan. Dari ungkapan di ata.s jelas bahwa umumnya orang selalu ingin "sesuatu yang baru," yang berbeda dari yang telah dialaminya. Kecenderungan kila adalah adanya suatu perubahan atau perbedaan dari yang telah ada, kita menginginkan adanya variasi dalam kehidupan. Hidup menjadi lebih menarik, dan kita lebih dapat menikmati kehidupan bila hidup dijalani dengan penuh variasi.

2.8.2    Tujuan Mengadakan Variasi
Keterampilan mengadakan variasi dalam mengajar berhubungan dengan perubahan atau variasi yang dilakukan guru dalam sajiannya dengan gaya guru mengajar, macam media dan bahan pengajaran yang digunakan, dan pola interaksi dalam kelas.
Kemanfaatan keterampilan mengadakan variasi dalam mengajar terutama untuk memusatkan perhatian dan pemberian inotivasi dengan tujuan sebagai berikut.
1)    Untuk menimbulkan dan meningkatkan perhatian murid kepada aspek belaj ar-mengaj ar yang relevan.
2)    Untuk memberikan kesempatan berkembangnya bakat "ingin mengetahui dan menyelidiki" dari murid tentang hal-hal yang baru.
3)    Untuk memupuk tingkah laku yang positif terhadap guru dan sekolah dengan berbagai cara mengajar yang lebih hidup dan lingkungan belaj ar yang lebih baik.
4)    Untuk memberi kesempatan kepada murid mendapatkan cara menerima pelajaran yang disenanginya.
5)    Untuk lebih meningkatkan kadar proses belajar mengajar yang   aktif   dan     melihat   murid   dengan   berbagai pengalaman yang menarik dan terarah pada berbagai tingkat kognitif.
2.8.3 Prinsip Penggunaan Keterampilan Mengadakan Variasi
Ada tiga prinsip yang berhubungan dengan penggunaan keterampilan mengadakan variasi. Prinsip itu adalah sebagai berikut.
1)    Variasi hendaknya digunakan dengan suatu maksud tertentu, relevan dengan tujuan yang hendak dicapai, cocok dengan kemampuan hak dan hakekat pendidikan. Penggunaan variasi yang wajar dan beragam sangat dianjurkan, dan sebaliknya pemakaian yang berlebihan akan menimbulkan kebingungan, malahan dapat mengganggu proses beiajar mengajar.
2)    Variasi haras digunakan secara lancar dan berkesinai bungan, sehingga tidak akan merasak perhatian mur dan tidak mengganggupelajaran.
3)    Sejalan   dengan  prinsip-prinsip   di   atas,   komponer komponen  variasi  tertentu  memerlukan  susunan  da perencanaan   yang   baik,   artinya   secara   eksplisi dicantumkan dalam rencana pelajaran..
2.8.4    Komponen Keterampilan Mengadakan Variasi
Pada bagian terdahulu telah dikemukakan bahwa komponen keterampilan mengadakan variasi ada tiga. Berturut-turut, komponen itu akan dibicarakanberikut ini,
1)    Variasi dalam GayaMengajar
2)    Variasi dalam penggunaan media dan bahan pengajaran
3)    Variasi Polalnteraksi dan Kegiatan Murid

Tidak ada komentar:

Posting Komentar