Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Rabu, 19 Juni 2013

Tempat dan Waktu Pertunjukan tayub

Tempat dan Waktu Pertunjukan tayub

Tempat Pertunjukan
Tempat pentas atau ruang pertunjukan tayub pada mulanya menggunakan konsep ruang terbuka. Dalam hal ini ruang pentas atau stage dapat dilakukan di berbagai tempat, misalnya pendapa, rumah, sawah, halaman, lapangan, jalan, bahkan kuburan. Tempat pertun¬jukan untuk upacara ritual bersih desa masih memilih terripat-tempat keramat, seperti pundhen dan sendhang. Tempat pentas itu kadang-kadang juga dibuatkan panggung. Dalam perkembangan tempat pen¬tas terutama untuk acara hajatan terjadi perubahan atau penyesuaian dengan ruang kehidupan sosial desa sekarang ini. Ruang pertunjukan tayub bergeser dari ruang terbuka menjadi ruang tertentu atau cen-derung dibatasi dengan panggung. Istilah panggung dalam hal ini mempunyai pengertian yang sempit yaitu tempat atau lantai pentas yang ditinggikan.
Perubahan tempat pentas itu tampaknya mendapat pengaruh konsep ruang pentas Barat, seperti prosenium. Tempat pentas yang disiapkan adalah panggung yang tinggi dan luasnya ditentukan sesuai dengan kebutuhan. Dalam menentukan luas panggung biasanya mem-pertimbangkan jumlah joged yang akan tampil dalam pertunjukan. Sebagai contoh ketika pertunjukan tayub di Todanan pada tanggal 12 Maret 2005 yang menghadirkan empat orang joged, luas panggung berukuran 6x6 meter dengan tinggi 60 cm. Selain itu juga dibuat pang¬gung untuk tempat gamelan dan pengrawit. Dengan demikian dalam perkembangan ruang pentas pertunjukan tayub terjadi pergeseran dari ruang terbuka menjadi lebih terbatas.


Waktu Pertunjukan
Tayub biasanya dipertunjukkan pada waktu siang dan malam ha¬ri. Pada tahun 1990-an pertunjukan pada siang hari dilakukan mulai pukul 10.00 sampai dengan pukul 17.00, sementara pada malgm hari dimulai pukul 21.00 sampai dengan pukul 04.00 dini hari. Dengan jadwal seperti itu pertunjukan tayub pada siang hari dilakukan selama 7 jam dan pada malam hari selama 6 jam, jika dijumlah waktu per¬tunjukan tayub selama sehari semalam kurang lebih 13 jam. Perkem¬bangan sekarang ini, waktu pertunjukan lebih dipersingkat, pada siang hari dimulai pukul 11.00 atau 12.00 sampai dengan pukul 16.00 atau 17.00, sedangkan pada malam hari pukul 23.00 sampai dengan pukul 03.00 atau 04.00 dinihari, sehingga hanya diperlukan waktu selama 8 sampai dengan 10 jam.

Penaaggap dan Penonton Penanggap

Penanggap adalah seseorang yang meminta dan membiayai penye-lenggaraan pertunjukan, dalam hal ini pertunjukan tayub. Penanggap adalah orang yang mempunyai hajat, sedangkan sebuah hajatan adalah sebuah performance (pertunjukan yang dilaksanakan sebaik-baiknya). Penanggap mempunyai otoritas dalam menentukan bentuk sajian tayub, tenmasuk di dalamnya menentukan joged yang akan terlibat, pengarih, dan kelompok karawitan. Di samping itu ia juga menentukan bentuk panggung, peralatan yang digunakan, dan Iain-lain. Penentuan joged, pengarih, kelompok pengrawit, bentuk pang¬gung, dan peralatan yang digunakan sangat ditentukan oleh kemam-puan finansial seorang penanggap. Penanggap juga menentukan ben¬tuk 


Penonton
Peran penonton juga tidak kalah penting dalam pertunjukan ta¬yub. Daya apresiasi para penonton diharapkan dapat ditingkatkan kemampuannya, a'gar interaksi dan komunikasi dalam tayub berjalan baik. Keragaman kemampuan di antara penonton dapat pula menjadi kendala, apalagi adanya kesenjangan daya apresiasi antara yang tua dan yang muda. Keberlanjutan seni pertunjukan sangat ditentukan oleh daya apresiasi penontonnya. Jika masyarakat tidak mempunyai daya apresiasi terhadap pertunjukan tayub, maka tidak ada yang menonton pertunjukan. Oleh karena itu perlu diupayakan peningkatan daya apresiasi masyarakat agar pertunjukan tayub tetap hidup dan berkembang sesuai perkembangan zaman.

Suwelan dan Walik Gendhing
Suwelan dan u;a/ik gendhing atau walik bonang merupakan dua unsur yang selalu mewarnai pertunjukan tayub, yang sebenarnya da-pat dikategorikan unsur non-estetis. Namun dua unsur itu sering di-anggap penting dalam pertunjukan.
Suwelan
Suwelan adalah sebutan yang digunakan untuk menunjuk pada aktivitas seorang pengibing yang memasukkan uang ke sela-sela kem-ben atau payudara seorang joged. Dalam perkembangannya, kebiasa-an suwelan dipandang kurang sopan dan tidak sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat, karena tradisi suwelan itu memungkin-kan para pengibing menggunakan kesempatan dengan mencolek tu-buh atau payudara seorang joged ketika memasukkan uang ke dalam sela-sela fcemfaennya, Oleh karena itu sudah diupayakan dihilangkan, meskipun kenyataan di lapangan masih sulit untuk dicegah.

Walik Gendhing
Walik gendhing adalah sebutan untuk menunjuk pada aktivitas permintaan gendhing oleh pengibing kepada kelompok pengrawit. Permintaan gendhing biasanya disertai dengan memberikan imbalan uang kepada kelompok pengrawit dengan cara meletakkan uang itu (sering disebut uang saweran atau uang tombok) ke dalam instrumen bonangyangdiletakkan terbalik. Oleh karena uang imbalan diletakkan di instrumen bonang, maka aktivitas itu disebut walik bonang.

Perlengkapan Lain
Perlengkapan pertunjukan tayub terdiri atas: panggung dan perabot pendukungnya, sound system, lampu, gamelan, sampur, se-saji, dan minuman beralkohol. Akan tetapi dalam pembicaraan di bawah ini hanya akan diuraikan mengenai sampur, sesaji, dan mi¬numan beralkohol, karena perlengkapan yang lain sudah dijelaskan dalam pembicaraan sebelumnya pada elemen pertunjukan tayufa.

Sampur
Dalam pertunjukan tayub, sampur menjadi properti yang sangat " penting. Sampur tidak hanya digunakan oleh para joged untuk me¬nari, tetapi juga dipersiapkan untuk para pengibing yang akan berpar-tisipasi dalam pertunjukan tayub. Selain itu sampur mempunyai sim-bol yang menyatakan bahwa seseorang yang menerima sampur berarti berhak menari dalam pertunjukan tayub. Sampur juga dimaknai se¬bagai simbol penghormatan kepada seseorang yang akan menari tayub. Dengan menggunakan sampur seorang pengibing akan lebih maksimal dalam berekspresi menari tayub. Gerak-gerak tari yang di¬lakukan semakin bervariasi dengan properti sampur yang digunakan.
 
Oleh karena sampur dimaknai sebagai penentu bagi orang yang berhak untuk menari sebagai pengibing atau pengguyub, maka jika seseorang tidak mendapat kesempatan menerima sampur yang berarti tidak mendapat kesempatan menari, akan kecewa bahkan marah. Jumlah sampur yang dipersiapkan dua kali lipat jumlah joged yang tampil dalam pertunjukan tayub. Jikajumlah joged dalam pertunjukan itu empat orang, maka sampur yang dipersiapkan bagi pengibing dan pengguyub berjumlah delapan lembar. Orang yang bertanggung jawab menyiapkan sampur adalah pengarih, meskipun seringkali sampur yang digunakan adalah sampur milik para joged. Warna sam¬pur yang digunakan dapat berwarna-warni, tidak harus dengan warna yang sama. Sampur itu biasanya ditempatkan di atas nampan atau baki dan disampaikan kepad aparapengibingsebelum tampil menari.
Sesaji (Sesajen)
Sesaji (sering disebut dengan cok bakal) adalah seperangkat sya-rat yang harus dipersiapkan dalam pertunjukan tayub. Sesaji dianggap sebagai unsur yang dapat membantu kelancaran dan keberhasilan pertunjukan. Sesaji pada pertunjukan tciyub biasanya diletakkan di antara gamelan yang akan ditabuh, seringkali di dekat instrumen gong. Sesaji pada umumnya dipersiapkan sebelum pertunjukan. Se¬saji biasanya ditempatkan di atas tampah atau tambir atau nampan dan masing-masing makanan ditempatkan pada takir yang dibuat dari daun pisang.

Minuman Beralkohol

Minuman beralkohol seringkali menyertai pertunjukan tayub, bah-kan di beberapa desa minuman beralkohol dianggap sebagai.bagian yang tak terpisahkan dari pertunjukan tayub. Oleh karena itu, orang minum minuman beralkohol menjadi fenomena yang biasa terlihat dalam arena pertunjukan tayub. Hal itu dianggap merupakan bagian dari pelengkap atau salah satu syarat pertunjukan tayub. Walaupun sudah diupayakan agar minuman beralkohol dihilangkan dari arena pertunjukan tayub, namun masyarakat desa terutama penggemar ta¬yub masih mengkonsumsi minuman beralkohol. Hal itu disebabkan oleh adanya pendapat bahwa minum minuman beralkohol menjadi bagian dari bentuk pergaulan yang berlaku pada masyarakat. Oleh karena itu kalau disediakan minuman alkohol dan ditawari untuk minum, mereka pada umumnya menerima dengan senang hati. Hal itu merupakan bentuk penghormatan, baik bagi yang punya hajat maupun yang disodori minuman beralkohol. Pandangan yang ter-tanam itu menyebabkan hampir setiap tamu yang disodori minuman alkohol tidak menolak untuk meminumnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar